Steadfast Marine Sukses Bikin Kapal Keruk Pesanan Belanda

Industri pembuatan kapal Indonesia dalam negeri sempat menggeliat dengan ditandai produksi kapal skala internasional. Pada 2014 lalu, saya menulis perusahaan lokal di Pontianak mampu menjawab tantangan perusahaan kapal Belanda memesan jenis kapal keruk dengan teknologi mutakhir.

Steadfast Marine Pontianak sebagai perusahaan lokal merakit kapal sepanjang 90 meter untuk beroperasi di Sungai Kapuas dan sungai-sungai lain di Indonesia.


Sayangnya, ketika itu komponen pembuatan kapal masih mendatangkan dari luar negeri. Ini tantangan Indonesia untuk memproduksi sendiri komponen lokal.

PONTIANAK — Perusahaan galangan kapal nasional, PT Steadfast Marine baru saja merampungkan pembuatan kapal dengan nama kapal keruk Barito Equator merupakan pesanan dari Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), produsen kapal asal Belanda, di Pontianak.

Peresmian kapal yang menghabiskan biaya Rp260 miliar itu dihadiri Presiden Direktur Steadfast Marine Eddy Kurniawan Logam, Wakil Walikota Pontianak Edi Rusdi Kamtono dan jajaran direksi dari PT Pelayaran Fortuna Nusantara Megajaya, pemilik kapal bersama dengan DSNS.

Eddy mengatakan kapal yang dibangun selama 18 bulan itu merupakan keberhasilan perusahaan galangan kapal nasional yang mampu membuat kapal berspesifikasi tinggi untuk produsen kapal kelas dunia.

“Kapal ini bisa menampung lumpur dari dasar laut hingga 2.500 meter kubik dengan panduan satelit, alat sedotnya menggunakan mesin-mesin berkualitas tinggi didatangkan dari negara Belanda semua,” kata Eddy di sela-sela peresmian kapal, Senin (13/10).

Kapal jenis Trailing Suction Hpper Dregger 2.500 tersebut memiliki panjang 90 meter dan akan beroperasi di sepanjang sungai Kapuas, sungai Barito, dan sejumlah sungai di tanah air untuk mengeruk lumpur di sungai-sungai dangkal yang menyebabkan kapal bermuatan berat sulit masuk ke pelabuhan.

Baca: Duniatex Bikin Masker

Eddy mengharapkan dengan keberhasilan Steadfast Marine Pontianak membuat jenis kapal keruk itu, industri perkapalan semakin lebih maju lagi disertai dukungan dari pemerintah Indonesia. Terutama dalam hal penghapusan PPN 10% dan Bea Masuk 12,4%.

“Komponen-komponen pembuatan kapal ini semuanya dari luar negeri. Hanya 10% saja komponen lokal, sisanya 90% dari luar negeri. Persoalannya, Indonesia belum mampu membuat komponen karena industri volume kapal masih sedikit.”

Wakil Wali Kota Pontianak Edy Rusdi Kamtono menyatakan dukungan industri pembuatan kapal nasional karena memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional dan provinsi Kalbar dalam jangka panjang.

Edi mengutarakan perlu banyak dibuatnya kapal keruk untuk membantu mengeruk dasar sungai yang dangkal. Sehingga Indonesia tidak perlu punya sewa kapal keruk pasir laut lebih produksi dalam negeri.

Selama ini kapal-kapal bermuatan berat sulit masuk ke pelabuhan Dwikora Pontianak karena dasar sungai dangkal. Dampaknya berpengaruh terhadap jadwal pendistribusian barang yang lama.

“Dasar sungai Kapuas ini perlu pengerukan karena saat air surut, dasar sungai menjadi dangkal. Banyak kapal tidak bisa masuk ke dalam. Dengan kapal ini (Barito Equator) membantu (jalur sungai lancar.”

Direktur Keuangan PT Pelayaran Fortuna Nusantara Megajaya Rudi Setia Laksmana mengatakan selama ini untuk mengeruk lumpur di sejumlah dasar sungai di perairan Tanah Air mendatangkan kapal-kapal keruk dari Amerika Serikat, Malaysia, dan Denmark.

“Kapal ini nanti mampu mengeruk lumpur sedalam 5-6,2 meter supaya kapal-kapal batubara dan kayu layak masuk (ke perairan). Arus barang menjadi lancar.”

Deo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.