Sariamin, Penulis Selasih Dalam Perayaan Google Doodle

Foto: Sariamin Ismail Dalam Google Doodle. Sumber Google

Google Doodle pada 31 Juli 2021 menampilkan sosok perempuan pengarang novel terkenal berjudul Selasih. Penulisnya adalah Sariamin Ismail. Perempuan yang lahir di Sumatra Barat pada 31 Juli 1909.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan membuat penelitian besar terhadap sosok yang dianggap merupakan pengarang novel pertama perempuan Indonesia itu pada 1995. Penelitian itu tentang biografi Selasih dan Karyanya. Nama Selasih adalah samaran bagi Sariamin.

Sariamin, dari informasi buku itu merupakan anak petani bernama Laur Datuk Rajo Melintang. Dia bersama saudaranya memiliki kemampuan finansial sehingga bisa mengenyam pendidikan tinggi. Ketika itu, anak kedua dari tiga bersaudara ini mencapai pendidikan Meisjes Normaalschool (Sekolah Guru Perempuan) di Padang Panjang sekitar 1921 sampai 1925.

Tidak cuma pendidikan formal Meisjes Narmaalscoold saja, Sariamin rajin mengikuti pendidikan non formal. Dia pernah ikut Sekolah Tinggi Pendidikan bernama Jo Kien Sihan Gakko, seperti ditulis Dokumentasi Kesusastraan H.B Yasin. Sekolah itu dibangun Jepang. Sariamin sekolah pada 1943 hingga 1944.

Dia begitu senang dengan belajar. Di Bukit Tinggi ada sekolah bernama Samilussalam. Ini adalah sekolah agama Islam. Sekolah-sekolahnya itu membuat dia memiliki daya kritis tinggi dan tertuang dalam tulisannya. Dia pun penyuka belajar bahasa.

Tiga bahasa dikuasainya yakni Inggris, Belanda dan Jepang. Sariamin bahkan menyukai olahraga, tenis, catur dan bridge. Olahraga yang pada jamannya belum banyak diminati kaum perempuan masa itu. Dewasanya, Sariamin bekerja sebagai guru dan pernah terlibat dalam politik.

Minatnya sebagai pengarang sudah dimulai sejak awal sebagai guru. Saat Sariamin menikah pada 1941, dia pindah ke Teluk Kuantan mengikuti suami. Bekerja sebagai guru Schahelschool milik Kuantan Institut. Bekal ilmu pendidikan yang dilahapnya sejak kecil membuat dia peka dengan situasi dan menuangkan dalam tulisan.

Dia punya kebiasaan menulis sejak umur sebelas setengah tahun di buku harian bernama Mijn Vriendin. Dalam catatan hariannya, pemilik nama kecil Basariah ini menumpahkan isi hati yang sering diolok karena postur tubuh kecil, tidak rupawan dan dari kampung. Kebiasaan menulis itu mengantarkan artikel tulisannya di majalah Asjsjaraq berjudul; Betapa Pentingnya Anak Perempuan Bersekolah, pada 1929.

Sariamin resah dengan lingkungan sosialnya. Dia berani mengkritik pemerintah kolonial. Akibatnya dia dicari Polisi Rahasia Belanda (PID). Beruntung minim bukti, dia lolos dari penjara. Tidak berhenti di situ, Sariamin sering semakin menulis. Sesekali penulis yang pernah sebagai kepala sekolah itu tertarik ingin mengirim tulisan berbentuk novel ke Balai Pustaka karena honor yang besar.

Pertimbangan lain menurutnya, kirim ke Balai Pustaka sekaligus menguji kualitas karyanya. Dia mengganti nama Selasih untuk menghindari pencarian Belanda di naskah tersebut. Sariamin mengirim tulisan tangannya ke redaksi Balai Pustaka pada 1932. Naskah tersebut diterima dan tersiar melalui radio.

Catatan Ishak Hikmat Ishak pada 1981 dalam judul tulisan Selasih di Kompas, 11 Januari 1981 menyatakan karya Selasih merupakan pujangga wanita pertama ketika itu. Orang tidak tahu Selasih adalah Sariamin Ismail. Sejak Selasih meledak, Sariamin terus menulis. Namun pada 1941 berhenti menulis karena harus mencari kerja lain khawatir masuk penjara.

Selain itu, dia mesti bekerja karena suami kehilangan pekerjaan. Masih dari tulisan Ishak Hikmat, barulah pada 1970 Sariamin kembali menulis atas dorongan Ismid Haddad. Dia adalah menantu Sariamin yang dikenal pula sebagai tokoh penerbitan Prisma.

Sariamin menulis lagi dan mengirim karyanya ke Balai Pustaka berjudul Panca Juara terbit pada 1981. Berkat karyanya tersebut bisa bertemu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daed Yoesoef. Menteri meminta dia terus menulis. Semangat menulis menaunginya. Bukan cuma novel, karya lain prosa, puisi dan cerita-cerita pendek. Novelis itu meninggal di Pekanbaru, Riau pada usia 86 tahun. Tepatnya 15 Desember 1995.

Baca: Buku Biografi Benny Muliawan Penerobos Madrid

Deo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.