Potret Jalur Rempah Pelabuhan New Brussel Pesisir Borneo

Keterangan foto: Sisa bangunan gudang garam peninggalan VOC di Sukadana. Sumber: Yusri Darmadi

Penulis: Yanuarius Viodeogo

PONTIANAK – Keberadaan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara di Kalimantan Barat yang pernah sebagai pelabuhan terbesar seantereo Borneo pada abad ke-17 tidak sebenderang jalur perdagangan rempah nusantara seperti kepulauan Banda di Maluku atau Pelabuhan Deli di Medan.

Padahal, Sukadana merupakan entrepot atau pelabuhan pengumpul komoditas yang tercatat dalam jalur perdagangan paling strategis di kawasan pantai Asia Tenggara bagi para pelaut Eropa dan pedagang nusantara.

Yusri Darmadi, penulis buku berjudul Niew Brussel di Kalimantan: Peran Strategis Sukadana Pada Abad Ke-19 mengatakan kepada saya sebagai pelabuhan entrepot, Sukadana didukung oleh area cekung di pantai Pulau Datuk.

“Posisi Sukadana langsung menghadap laut lepas. Tidak jauh dari Sukadana adalah Pulau Karimata yang berada di tengah-tengah langsung berhadapan dengan laut lepas China Selatan atau laut Natuna dan perlintasan Malaka,” kata Yusri, Sabtu (24/8/2021).

Saat Panembahan Giri Kusuma naik tahta pada 1550, dia membangun dan membuat Sukadana diminati para pedagang dari penjuru arah angin. Pedagang dari Makassar misalnya, mereka datang dan meramaikan pelabuhan-pelabuhan di pesisir Kalimantan salah satunya Sukadana pasca berakhirnya perjanjian Bongaya dan Gowa Tallo. Selain itu, kedatangan para pedagang muslim dari Palembang yang berniaga sekaligus mengajar pengetahuan Islam.

Kehadiran para pedagang nusantara tersebut membuat pelabuhan Sukadana kian penting di barat Kalimantan. Pedagang Islam dari Palembang dengan pimpinan Syech Maghribi berniaga di Sukadana. Dia memperkenalkan sistem takaran beras yaitu 1 gantang sama dengan 4,5 kilogram.

Victor T. King, Kepala Institute of Asian Studies dari Universitas Brunei Darussalam yang mengumpulkan antologi tulisan dan berjudul Kalimantan Tempo Doeloe menyajikan tulisan Kapten Daniel Beeckman saat menyusuri sungai sampai di Kesultanan Banjarmasin pada 1714. Hingga abad ke-17 hanya ada empat titik pelabuhan terbesar di Borneo menurut urutan arah mata angin.

Dalam catatan Daniel Beeckman ada empat dermaga perdagangan utama di Borneo yakni Borneo yang sekarang Brunei Darussalam di sebelah utara, Banjer Masseen di sebelah selatan, Passeer (Pasir) di sebelah timur dan Succadana sekarang bernama Sukadana di sebelah barat.

Daniel Beeckman dan J. Beacher mendapat perintah dari East India Company (EIC) untuk membawa kapal bernama Eagle Galley berlayar dari Inggris dalam misi perdagangan ke Kalimantan. Daniel Beeckman menjabat kapten kapal berangkat pada 12 Oktober 1713 dari Inggris. Dia memperoleh tugas membuka kembali perdagangan Inggris komoditas lada dan produk tropis dengan Kesultanan Banjarmasin.

Misinya berhasil berlabuh di Banjarmasin pesisir selatan Kalimantan pada 29 Juni 1714 dan berangkat kembali ke Inggris pada 19 Oktober 1715. Dalam catatan harian Beeckman, ada raja di daerah pedalaman yaitu Kota Borneo, Succadana dan Passeer yang tunduk kepada Raja Borneo kecuali Banjar Masseen.

Jauh sebelum Beeckman datang, menurut Yusri Darmadi, Pulau Kalimantan pertama kali didatangi pelayar eropa tepatnya dari Portugis bernama Lorenzo de Gomes pada 1518. Lorenzo berlayar dari China hendak menuju Kalimantan. Pada 7 tahun kemudian menyusul George de Meneses dari Maluku ke Kalimantan pada 1526. Berikutnya, Olivier van Noort orang Belanda yang mengunjungi Brunei Darussalam pada 26 Desember 1600.

Yusri Darmadi

Barulah, Wijbrang van Warwijck tercatat sebagai kapten yang menugaskan utusannya ke Sukadana. Wijbrang dari Gresik hendak ke Johor beristirahat di Pulau Karimata. Jarak antara Pulau Karimata dan Sukadana sekitar 8 jam perjalanan menggunakan speedboat sekarang ini. Utusan itu kembali ke Karimata dengan membawa barang-barang ke Karimata senilai 100 dollar Spanyol saat itu.

Sukadana, selain wilayah pesisir pantai di Kalimantan Barat, wilayah itu dikelilingi perbukitan dengan tanah subur bagi komoditas pertanian. Di sinilah lada tumbuh subur dan merupakan penghasil lada terbesar di pulau Kalimantan. Sukadana akhirnya tumbuh menjadi jalur pelayaran dan tentu perdagangan yang penting.

J.P.J Barth, administratur Belanda dalam catatan hariannya berjudul Overzich der Afdeeling Soekadana (1896) menulis afdeeling sama dengan kecamatan. Dia menggambarkan lalu lintas hilir mudik kapal-kapal begitu padat jaman itu di pesisir Sukadana.

P.J Veth dalam buku Borneo’s Wester-Afdeeling: Geographisch, Statistich, Historich (1854) menggambarkan Sukadana merupakan daerah yang kaya di barat Kalimantan. Bukan hanya penghasil sumber daya alam laut seperti udang saja. Ada tepung sagu, beras, lada dan ubi kayu dari wilayah itu.

Sebagai satu-satunya jalur perdagangan di barat Kalimantan yang menjadi persinggahan kapal-kapal asing dan nusantara, Sukadana pun menahbiskan wilayah yang terbuka bagi siapa mana saja. Ia membuka diri seluas-luasnya untuk disinggahi banyak kapal. Konsekuensi itulah yang menjadikan Sukadana begitu penting dalam jalur perdagangan bagian barat Kalimantan.

“Sukadana itu seperti negeri satelit, komoditas dari hulu melalui jalur sungai masuk ke Sukadana. Selatannya Sukadana, dan Pontianak adalah jalur barat. Perahu ukuran sedang dan kecil dari Landak, Kapuas Hulu, Sintang wajib masuk ke Sukadana,” kata Yusri, Selasa (14/8/2021).

Para pedagang membawa komoditas dari Sukadana ke Jawa seperti rotan, lilin, pohon semak dan terasi. Kapal-kapal yang menuju Singapura dari Sukadana mengangkut rotan, getah perca, sarang burung walet, kura-kura, besi, kain sutra dan koin perak. Sementara Sukadana menerima tembakau, tembaga dan tembikar. Kemilau pelabuhan Sukadana itu membuat Belanda dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan Inggris dengan East India Company (EIC) membuka kantornya di sana.

Harian De Locomotief berdasarkan tulisan dari M. Dien Majdid, penulis buku Kontinuitas dan Perubahan di Sukadana Abad XVII-XIX: Islamisasi, Perdagangan dan Anti-Kolonialisme mencatat kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan Sukadana. Ada kapal berasal dari Pelabuhan Semarang, ada pula dari Batavia. Kapal itu jenis sekunar. Sementara dari Sukadana, sebuah kapal besar milik saudagar haji menuju Semarang.

Buku Nieuw Brussel di Kalimantan Peran Strategis Sukadana pada Abad ke-19 mencatatkan sebuah tabel berisikan data komoditas impor dan ekspor pada 1854 dari Sukadana, Matan dan Simpang. Matan adalah wilayah berada di perbatasan tenggara dan selatan Sukadana. Adapun Simpang merupakan wilayah perbatasan timur laut Simpang. Ketiga daerah berada di bawah satu Penembahan.

Komoditas yang masuk ke ketiga wilayah itu mencakup opium, tembikar, panci (besi), kapak, kurma, gambir, benang (katun), emas (serbuk), sayuran (berlapis), anak sapi, kapuk, kacang, kapas (Iijwad) karet, kelapa, kawat tembaga, barang tembaga, karang (China), seperai, permis (Palembang), timah, tikar (jerami Jawa), koin (tembaga), wadah, perak, minyak (jarak), kelapa, padi, beras, domba, sirup (lokal) cermin, paku, baja, kursi, gula (bubuk), anaum, tembakau, asam, tripang, tulib (Arab), bawang, gemuk (babi), ikan (kering), sarang burung, wayang (Jawa), tali penyeret, besi, sutra, celana sutra (kasa) dan lembaran sutra. Komoditas-komoditas itu didatangkan dari Belitung, Jawa, Karimata, Lingga dan bawahannya, Pontianak, Singapura.

Komoditas yang diekspor dari Sukadana, Matan dan Simpang adalah opium, kulit pohon, damar, kayu gaharu, getah perca, madu, karet, kelapa, tembaga, tikar (dayak), koin, minyak (kelapa), tebu, beras, kerang, gula, tembakau, tripang, terasi, dipan, buah-buahan dan lilin.

Khusus bagi masyarakat lokal pesisir, komoditas garam sangat penting untuk dijual ke penduduk yang tinggal di pendalaman. Barth dalam bukunya Overzicht der Afdeeling Soekadana menyebutkan garam merupakan kelengkapan bumbu menemani rempah-rempah yang wajib tersimpan di dapur. Untuk memperolehnya tidak jarang penduduk mendapatkan garam dengan cara diselundupkan.

Tentang garam di Sukadana ada di tulisan George Windsor Earl di The Eastern Seas or Voyages and Adventures in the Indian Archipelago, Comprising a Tour of the Island of Java-Visits to Borneo, the Malay Peninsula, Siam dalam penelitian M. Dien Madjid.

Tidak seluruh garam di Borneo termasuk di Sukadana merupakan produksi masyarakat lokal. Garam-garam ada yang didatangkan dari Jawa. Permintaan garam begitu tinggi, membuat Belanda mengatur peredaran garam secara monopoli. Belanda sangat ingin menguasai bisnis lokal perdagangan garam dari para pedagang lokal. George Windsor Earl menggambarkan Belanda menjual garam hanya kepada tujuh pedagang besar sebelum dijual kembali ke pedagang eceran.

Jejak peninggalan kedigdayaan komoditas garam masih ada hingga saat ini. Yusri Darmadi memperlihatkan foto satu-satunya sisa bangunan gudang garam warisan Belanda. Bangunan tersebut sekarang tidak dalam kondisi utuh. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Gudang itu tinggal tiang-tiang kayu pondasi bangunan. Batu-batu besar sebagai penahan tiang berada di atas pasir.

New Brussel Borneo

Succadana atau Sukadana bukan sekadar wilayah strategis jalur perdagangan di barat Borneo. Kawasan ini sejatinya memiliki pemandangan indah. Hamparan pasir putih dan biru laut menghiasi pesisir pantai. belum lagi, keberadaan gunung Palung yang memahkotai Sukadana.

Kemajuan pesat perdagangan Sukadana membuat Kesultanan Tanjungpura di Pontianak tersaingi. P.J Veth dalam bukunya menggambarkan jalur pelayaran dan kapal-kapal perdagangan tumpah ruah singgah ke Sukadana. Pedagang lebih memilih Sukadana yang membuat aktivitas bongkar muat tiada henti. Sukadana seperti gula yang diserbu semut dari berbagai penjuru arah.

Bahkan Gubernur Bengkulu Thomas Stamford Raffles berniat mendapatkan Pulau Karimata sebagai lokasi menimbun komoditas dagang. Posisinya yang strategis dekat dengan Sukadana dan berada di tengah-tengah Pulau Sumatra dan Kalimantan penghubung laut lepas membuat Raffles jatuh hati. Namun, dia kurang beruntung karena terlambat mengirim pasukan. Pihak Belanda terlebih dahulu tiba dan Karimata berada dalam kekuasaan Belanda.

Saat Sukadana memasuki abad ke-18, wilayah ini mulai ditinggalkan para pedagang. Pesisir menjadi sepi. Penduduk memilih tinggal di pedalaman. Penyebabnya mulai dari pencegatan alur perdagangan yang hendak masuk ke Sukadana. Di sebelah bagian barat, pengangkut komoditas dari hulu dipaksa masuk ke Pontianak dan tidak diperkenankan ke selatan Sukadana. Sukadana dalam 1 abad tempat tinggal para bajak laut.

Namun Belanda belum puas dan hendak mengembalikan bekas wilayah kekuasaannya itu. Maka diutus Jenderal Du Bus ke Sukadana. Pejabat berpangkat komisaris jenderal itu takjub ketika pertama kali datang ke Sukadana. Dia melihat pintu masuk dan bentang alam mengeliling pesisir Sukadana mirip dengan Belgia. Oleh karena itu, dia menyebut Sukadana sebagai New atau Niew Brussel. Menurutnya, Sukadana mirip sekali dengan Belgia. Bukti otentik penyebutan nama New Brussel atau Nieuw Brussel itu tertuang dalam disertasi J.P.J Barth berjudul Overzicht der Afdeeling Soekadana.

Baca: KISAH BULE HOLLAND BANGUN GEREJA MARTINUS

Deo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.