Petani Sambas Menikmati Pedasnya Harga Lada

Artikel ini tentang para petani lada di Kabupaten Sambas yang pernah menikmati harga lada menjulang tinggi. Salah satu lokasi tanaman lada yang berhasil dikembangkan petani merupakan dampingan dari organisasi non profit Jerman. Saya menulis untuk harian Bisnis Indonesia pada 2014 lalu.

PONTIANAK — “Sekarang ini harga jual tertinggi yang pernah saya rasakan selama 16 tahun menanam lada. Saya memilih lebih fokus tanam lada ketimbang panen karet,” kata Jamizan petani lada asal Kabupaten Sambas, (4/12/2014).

Sesekali dia menyeruput secangkir kopi, dengan wajah yang sumringah, petani berusia 40 tahun itu mengatakan kepada bahwa sekarang harga jual lada di tingkat petani senilai Rp140.000 per kilogram, 3 hari lalu.

Dengan harga jual yang tinggi itu, tahun ini Jamizan bisa merasakan panen lada putih senilai Rp52 juta atau sebanyak 400 kilogram.

Pada panen tahun depan, dia memperkirakan nilai jual lada pun tidak jauh berbeda dengan pendapatan tahun ini. Seperti pada tahun ini, dia telah menyiapkan jumlah tanaman sampai 400 batang, di atas lahan 0,5 hektare untuk tahun depan.

Bukan tanpa alasan Jamizan hanya mampu menanam antara 300-400 batang karena keterbatasan bantuan tenaga. Untuk saat ini, dia dibantu oleh istrinya, terkadang oleh anaknya yang sulung.

Sementara, para petani lain bisa menanam hingga mencapai 2.000 batang lada di atas lahan 0,5 ha karena dibantu para tenaga lainnya. Dengan lahan seluas itu, petani bisa mencapai hasil panen hampir 1 ton.

Tak heran dengan harga panen lada yang menggiurkan itu, Jamizan rela meninggalkan 300-an pohon karet yang siap produksi. Persoalannya dari waktu ke waktu harganya terus menurun.

Baca: Harga Lada Putih di Kalbar Anjlok

Dari data Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar, jumlah lahan lada lebih luas dibandingkan dengan luas lahan tanaman karet yang mencapai 53.043 ha, jumlah produksi sebanyak 16.970 ton di kabupaten yang sebelum krisis moneter pada 1998 dikenal dengan asal jeruk Sambasnya itu.

Di Kabupaten Sambas terdapat 53.638 petani lada dengan total lahan sebanyak 147.859 ha dengan dan jumlah produksi mencapai 64.085 ton pada tahun 2012, berdasarkan data dari Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar.

Para petani tersebut tersebar di Kecamatan Galing dan Seluas. Mayoritas mereka menggantungkan penghasilan dari hasil menanam lada.

Sedangkan, secara keseluruhan luas lahan lada di Kalbar mencapai 1 juta ha dengan jumlah produksi 1,3 juta ton yang digarap sebanyak 570.141 petani.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan Kabupaten Sambas Dedy Budianto menuturkan faktor perbaikan mutu dan mengatasi hama beracun pada tanaman lada merupakan kunci keberhasilan harga lada meningkat di pasaran.

Dedy mengutarakan sebelumnya petani kesulitan mengatasi hama pada tanam seperti hama pengisap bunga, pengisap buah, penggerek batang, jamur pirang, busuk pangkal, keriting, rambut kuda, dan jamur upas.

Pihaknya bekerjasama dengan lembaga internasional dari Jerman yaitu Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit-Regional Economic Development (GIZ RED) membina petani lada melalui kegiatan Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (LPHT). 

Selama lima tahun, kata Dedy hasilnya menunjukkan trend positif. Mutu lada membaik, harga jual meningkat, dan permintaan pasar semakin bertambah.

“Selain pembeli di pasar Sambas dan Kota Pontianak, permintaan dari pembeli di Malaysia semakin meningkat sekarang.”

Deo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.