Nasib Wahana Bermain Kampung Gajah Usai Pailit

Ilustrasi: Wahana Bermain. Sumber Pixabay

Setiap akhir pekan biasanya menghabiskan waktu bersama keluarga di arena permainan. Salah satu lokasi bermain tidak jauh dari Kota Bandung menjadi favorit masyarakat yaitu Kampung Gajah.

Namun, kondisi wahana wisata dan bermain keluarga itu tidak beroperasional lagi. Tidak ada lagi aktivitas permainan di sana. Bangunan dan arena bermain kini terlantar tak terurus. Terbelilit utang dan berakhir bangkrut menjadi penyebab nasib Kampung Gajah kini.

Begini kronologi ceritanya, Kampung Gajah masuk proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat hingga pailit.

JAKARTA — Perkara PKPU dialami PT Cahaya Adiputra Sentosa sebagai pengelola taman wisata Kampung Gajah diajukan PKPU oleh PT Bank JTrust Indonesia sebagai pemberi pinjaman ke Pengadilan Niaga Jakarta pusat pada 2015 lalu.

Bank JTrust Indonesia mempunyai piutang terhadap Cahaya Adiputra Sentosa senilai Rp180 miliar. Kavling tanah di Kampung Gajah sebagai penjaminan dari Cahaya Adiputra Sentosa kepada Bank JTrust Indonesia.

Debitur mengutarakan dalam kondisi finansial yang sulit sejak 2015. Permohonan PKPU Bank JTrust Indonesia dengan perkara No. 40/PKPU/2015/PN.Jkt.Pst, dikabulkan oleh majelis pada 26 Mei 2015. Saat proses restrukturisasi utang tercatat utang Cahaya Adiputra Sentosa mencapai Rp369,12 miliar mesti dibayar kepada 17 kreditur.

Nasib baik sesungguhnya sempat memayungi Kampung Gajah. Ada titik terang wahana wisata itu beroperasi kembali. Warga Bandung dan sekitarnya mendapatkan angin segar dengan kabar ada perdamaian antara Cahaya Adiputra Sentosa dan para krediturnya.

Baca: Kalimass Jaya Milik Wakil Bupati Wajo Divonis Pailit

Kampung Gajah bisa melewati PKPU karena terjadi kesepakatan perdamaian. Majelis hakim mengesahkan perdamaian disepakati bersama pada 10 Agustus 2015.

Ilustrasi: Wahana Bermain. Sumber Pixabay

Namun, dalam perjalanan waktu Cahaya Adiputra Sentosa sebagai debitur tidak bisa menuntaskan isi perjanjian perdamaian. Dalam situasi seperti itu bahwa tidak ada pembayaran dari debitur maka Cahaya Adiputra Sentosa.

Pengadilan akhirnya membatalkan perdamaian debitur atas permohonan dari Bank JTrust Indonesia pada 13 Desember 2017. Pengadilan mengabulkan permohonan Bank JTrust Indonesia tersebut dan terpaksa Cahaya Adiputra Sentosa terbelenggu pailit.

Dari proses kepailitan inilah, diangkat kurator Vychung Chongson untuk membereskan aset-aset debitur. Dalam pemberesan aset, Vychung mengutarakan kepada saya sejumlah aset Kampung Gajah masuk dalam proses lelang yang berguna untuk membayar utang kepada para kreditur.

Seperti luas tanah mulai dari 500 meter persegi dan 1.000 meter persegi. Vychung mengutarakan ada yang membeli tanah-tanah tersebut.

Paling besar yang sedang dalam tahap pemberesan adalah tanah seluas 38 hektare. Vychung mengatakan budel pailit tersebut sempat diminati oleh satu korporasi.

Supaya proses pembelian aset tanah tersebut lancar maka mesti terdaftar melalui mekanisme legal yakni lelang di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).

Terbit di Bisnis Indonesia

Deo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.