Merek Keen Jadi Rebutan di Pengadilan dan MA

Yanuarius Viodeogo

Perjalanan panjang rebutan sebuah merek salah satunya pernah berlangsung di pengadilan niaga Jakarta Pusat antara Keen Inc dan pengusaha bernama Arif bertempat tinggal di Kota Tangerang.

Perusahaan dari Amerika Serikat itu merupakan perusahaan alas kaki, sepatu dan asesoris beralamat di 515 NW 13th Avenue Portland, OR 97209. Mereka memberikan kuasa sebagai penggugat kepada kantor hukum Hadiputranto, Hadinoto & Partners.

Sementara itu, lawannya adalah Arif, pengusaha garmen berdomisili di Taman Golf Tengah Blok FG/16, Modernland, RT001/RW014, Kelurahan Poris Plawad Indah, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.

Arif memberikan kuasanya untuk menangani perkara tersebut kepada kantor hukum Turman M. Panggabean.

Panjangnya waktu perkara ini selama 3 tahun lebih sejak 5 November 2015, mulai tingkat pengadilan niaga hingga ke tingkat akhir Peninjauan Kembali diputuskan pada 5 September 2018.

Perkara di antara mereka, dimulai saat Keen Inc menggugat Arif dengan perkara No. 71/Pdt.Sus-Merek/2015/PN Niaga Jkt.Pst.

Dalam tuntutannya, sebagai penggugat menilai merupakan pemegang merek Keen satu-satunya dan merek yang didaftarkan Arif di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) memiliki persamaan dengan mereknya.

Arif mendaftarkan merek Keen di DJKI dan menggenggam sertifikat No. IDM000152638, IDM000096014, IDM000096012, IDM000152639, IDM000152467, IDM000096011, dan IDM000096013.

Tuntutan Keen Inc meminta pengadilan agar memerintahkan DJKI membatalkan merek milik Arif dari daftar umum.

Pada 10 Maret 2016, majelis hakim pengadilan niaga memutuskan gugatan Keen Inc ditolak seluruhnya dan mengadili pula untuk membayar biaya perkara.

Tidak puas atas putusan tersebut, Keen Inc mencoba peruntungan dengan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Kali ini, permohonan kasasi dikabulkan MA pada 8 September 2016.

Putusan MA selain itu adalah membatalkan putusan PN Jakarta Pusat sebelumnya dan menyatakan penggugat sebagai pemakai pertama dan pemilik satu-satunya yang sah atas merek Keen.

Bahkan, MA mengadili pula yaitu membatalkan pendaftaran merek milik tergugat Arif dari daftar umum.

Arif tidak terima terhadap putusan kasasi MA tersebut dan mengajukan permohonan peninjauan kembali, pada 10 Oktober 2017. Dia meminta pengadilan agar membatalkan putusan kasasi dan menolak gugatan pemohon untuk seluruhnya.

Dalam tingkat peninjauan kembali, MA menyatakan bahwa putusan tingkat kasasi oleh majelis hakim MA telah melakukan kekeliruan yang nyata dalam pertimbangannya.

Majelis MA peninjauan kebali menyebtukan merek tergugat telah terdaftar pada 16 Januari 2008, sedangkan penggugat mendaftarkan gugatan pembatalan pada 3 November 2015 sehingga telah lewat waktu 5 tahun sesuai dengan ketentuan pasal 69 ayat (1) UU No. 15/2001 tentang Merek.

Dengan demikian, majelis hakim mengadili mengabulkan peninjauan kembali pemohon dan membatalkan putusan MA kasasi, pada Oktober 2018. Majelis hakim diketuai Yakup Ginting didampingi Zahrul Rabain dan Ibrahim.

Turman Panggabean mengutarakan sudah sewajarnya majelis hakim MA tingkat PK memutuskan perkara tersebut dengan mengabulkan gugatan permohonan kliennya.

“Sudah sewajarnya serta memenuhi rasa keadilan dan merek Keen dan Keen Kids milik klien kami telah didaftarkan kembali,” kata Turman.

Dia mengatakan pendaftar merek Keen dan Keen Kids setelah kliennya sudah pantas untuk dihapus pendaftaran dari daftar umum merek sehingga tidak ada dualisme kepemilikan dari kedua merek itu.

Deo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.