Mengintip Makna Kekayaan Intelektual Kagamiwari Jepang

Ilustrasi: Sumber Foto: Twitter DJKI_Indonesia

Tulisan ini saya kerjakan pada 2018 saat melihat postingan DJKI di Twitter untuk feature Bisnis Indonesia. Saat itu Freddy Harris berada di Jepang mengikuti upacara tradisional yang unik.

JAKARTA — Saat berada di Tokyo, Jepang, ada peristiwa unik dilakoni Direktur Freddy Harris. Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (KI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum dan HAM) RI itu, sempat didaulat menjadi tamu spesial mengikuti prosesi Kagamiwari.

Kagamiwari adalah salah satu di antara upacara tradisional resmi yang dimiliki negeri itu. Pada postingan twitter djki_indonesia, Freddy Harris memegang palu kayu dan memukul tutup tong kayu berisi sake hingga pecah.

Tong sake itu yang disebut kagami, sementara wari atau biraki berarti buka. Sake kemudian disajikan kepada para tamu yang hadir. Kagamiwari merupakan puncak acara pertemuan World Intellectual Property Organization (WIPO) High-Level Forum 2018, di Tokyo, Jepang pada 22-23 Februari tahun ini.

Saat saya menghubunginya, Freddy menceritakan Indonesia adalah tamu spesial diwakili dirinya pada prosesi Kagamiwari tersebut yang berdampingan dengan Director General of the WIPO, Francis Gurry, Commisioner of the Japan Patent Office Naoko Munakata dan seorang peserta dari Nigeria.

“Ini kehormatan bagi Indonesia karena memiliki inovasi pengembangan barcode yang bisa discan jarak jauh dan langsung tervalidasi, serta kemajuan implementasi Indikasi Geografis (IG) di Indonesia yang membuat kaget para peserta forum,” kata Freddy, Minggu (25/2).

Sistem barcode untuk pengamanan yang sedang diterapkan di Tanah Air saat ini telah menjadi komitmen bersama dan dikerjakan sungguh-sungguh oleh semua pihak.

Sehingga sistem terdigitalisasi mulai dari sertifikat paten, merek, desain industri dan tanda tangan direktur yang digital ada barcode. Supaya saat pengadministrasian kekayaan intelektual di Indonesia lebih ringkas tetapi terjamin keamanannya.

Sementara IG, menurutnya, WIPO memandang IG Indonesia telah mengalami perkembangan pesat. Freddy mengatakan sejumlah negara akan datang ke Indonesia untuk belajar bagaimana cara Indonesia yang cepat meregistrasi suatu produk lokal diusulkan mendapatkan IG.

Pihaknya sedang gencar supaya Kanwil Bidang Hukum nanti pada rapat koordinasi se-Indonesia pada Maret 2018 mengusulkan minimal satu produk lokal dan khas yang bisa dijadikan unggulan dari daerahnya untuk dilabeli IG.

“Orang kalau mau beli Cilembu nanti harus beli ubi dan harus berasal dari Cilembu [Kecamatan Pamulihan, Sumedang, Jawa Barat] jadi tidak ubi Cilembu palsu. Sekaligus mengangkat kesejahteraan masyarakat di sana,” ujarnya.

Kopi Gayo misalnya, kata Freddy Harris, setelah memperoleh label IG membuat harganya menjadi kian moncer. Dari awalnya Rp50.000 per Kilogran kini rerata dijual Rp100.000/Kg di tingkat petani.

Dia mengatakan Indonesia harus bisa seperti Thailand yang pasar modernnya kini menjual hampir 100% adalah produk-produk lokal negara tersebut karena ketatnya pengawasan agar tidak mudah terjadi pembajakan.

Baca: Kekayaan Intelektual Indonesia Unggul Dari Pakistan Menurut GIPC 2020

“Indonesia memang saat ini, seperti Thailand 4 tahun dulu yang produk apa saja dibajak dan dijual beli secara bebas. Sekarang mereka berhasil,” ujar Freddy Harris.

Salah satu lembaga yang mengukur kekayaan intelektual yakni Global Innovation Policy Center U.S Chamber berkedudukan di Amerika Serikat menilai skor perlindungan KI Indonesia meningkat dari 27% menjadi 30% dan diprediksi akan meningkat terus menurut GIPC.

Namun, Freddy ingin capaian Indonesia lebih tinggi dari penilaian GIPC dan salah satu impiannya adalah Indonesia nanti seperti Jepang dan negara lain yang pernah menjadi the best of office IP (intellectual property) di dunia karena mempunyai hal-hal yang bisa dibanggakan tentang kekayaan intelektual.

Saat jadi The Indonesia Paten Office suatu saat nanti, membayangkan Indonesia bersanding dengan DG WIPO dan perwakilan negara paten office lain bersama-sama menyeduh biji kopi Gayo-Aceh, menyajikan teh Java Preanger-Jawa Barat, atau panganan beraroma kayu manis Koerintji-Kerinci kepada para tamu dari berbagai negara, mungkin?

Deo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.