Melirik 4 Daerah Penghasil Lada Indikasi Geografis

Ilustrasi: Lada. Sumber Pixabay

Ketika meriset tentang lada putih Malonan dari Kutai Kartanegara (Kalimantan Timur) menggenggam sertifikat Indikasi Geografis (IG), membuat saya ingat bahwa lada memiliki nilai sejarah dan identitas yang panjang dan melekat pada daerah penghasilnya.

Seperti Lada Putih Muntok (Bangka Belitung) memiliki hubungan erat dengan pertambangan dan perdagangan dari China pada 1896. Ada lada hitam Lampung yang menjadi primadona komoditas rempah oleh bangsa Eropa sejak 1700. Berikutnya, Lada Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan) yang tidak bisa dilepaskan oleh identitas para pedagang campuran Bugis dan Toraja pada 1930-an.

Keempat daerah penghasil lada itu boleh bangga karena masa lalunya. Saat produk indikasi geografis terdaftar, pembaca diajak bernostalgia dengan catatan sejarah panjang daerah-daerah tersebut. Catatan-catatan itu tersebar di jurnal ilmiah dan liputan jurnalistik.

Keberhasilan mereka meraih sertifikat indikasi geografis juga menarik perhatian saya menulis tentang lada tersebut. Pemberian sertifikat indikasi geografis oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) terasa istimewa bagi pemilik sertifikat.

Dengan begitu nilai lada mereka menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan lada-lada lain di pasar global. Paling penting adalah, ciri khas dari pemilik lada menjadi pembeda dengan lada-lada lainnya.

Misalnya, ketika seseorang ingin mendapatkan lada berkualitas terbaik maka dengan percaya diri kita boleh bangga saat menyodorkan yang bersertifikat indikasi geografis.

Baca: Indikasi Geografis Melindungi Kopi Samosir

Dalam artikel ini, saya merangkum keempat daerah penghasil lada bersertifikat indikasi geografis tersebut.

  1. Lada Putih Muntok
Sumber : Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI)

Indikasi geografis lada putih Muntok memperoleh legalitasnya pada 18 April 2010 dengan nomor IDG 000000004. Sebagai pemilik yang mengajukan permohonan adalah Badan Pengelola, Pengembangan dan Pemasaran Lada (BP3L) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Tanaman lada putih Muntok, kali pertama diperkenalkan para pedagang China pada 1896. Mary Somers F Heidues dalam bukunya berjudul Sejarah Timah Bangka Belitung terbit pada 2009 mengatakan pedagang China membawa lada dan membudidayakannya bersamaan dalam kegiatan pertambangan timah.

Mereka tinggal di kawasan selatan Bangka dan Pangkalpinang. Di wilayah tersebut cocok sebagai daerah menanam sayuran, pertanian, karet dan lada karena jumlah penduduk sedikit ketimbang di utara Bangka yang memiliki jumlah penduduk lebih banyak.

Lada putih Muntok beruntung memiliki pasar ekspor yang langsung menuju negara-negara pembeli karena memiliki pelabuhan Tanjung Kalian. Namun sayangnya, produktivitas lada putih Muntok mulai turun.

Sejumlah faktor mempengaruhinya dari harga yang rendah, berbanding terbalik dengan harga pupuk yang mahal. Belum lagi akses modal minim dan luas areal tanaman menyusut karena kehadiran tambang timah dan perkebunan monokultur.

Direktorat Jenderal Perkebunan menyebutkan Bangka Belitung memiliki 48.695 Hektare (Ha) dan 32.352 ton lada. Itu catatan 2018, pada 2017 luas lahan mencapai 52.247 Ha dan produktivitas total mencapai 34.173 ton.

2. Lada Hitam Lampung

Sumber: DJKI

Lada yang terkenal dengan sebutan Lampung Black Pepper ini memperoleh sertifikat indikasi geografis bernomor G000000042. Pemberian IG yang diusulkan Masyarakaat Indikasi Geografis (MIG) Lampung karena lada kesukaan warga Eropa ini berasal dari kawasan dengan ketinggian 20 hingga 800 meter di atas permukaan laut.

Rifqi Saputra dari Fakultas Hukum Universitas Lampung Bandar Lampung meneliti keberhasilan indikasi geografis lada hitam Lampung memperoleh sertifikat berkat pendampingan dari lembaga swadaya masyarakat berkolaborasi dengan pemerintah daerah setempat.

Hingga kini, lada hitam Lampung masih menjadi kegemaran warga Eropa karena selain untuk bumbu penyedap makanan dan pengawwet daging juga untuk obat-obatan herbal dan minyak parfum.

3. Lada Luwu Timur

Sumber: DJKI

Tanaman dari Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan) punya perkembangan yang kian pesat di 11 kecamatan. Pada 2017, dari catatan Kementerian Pertanian luas lahannya mencapai 5.846 Ha dengan produktivitas 1,64 ton/Ha/tahun. Petani lada bisa menghasilkan lada putih kering rerata 6 hingga 10 ton/Ha/tahun.

Lada yang dari Luwu Timur yang memperoleh sertifikat IG pada 21 Januari 2020 dengan nomor G000000091 itu mendapatkan perhatian serius oleh pemerintah daerah setempat karena penerapan teknologi tepat guna.

Kementerian Pertanian menyebutkan masyarakat dibekali teknik marrutung yaitu teknik meliuk memperendah letak cabang penghasil buah untuk meningkatkan produktivitas buah. Sebaran lada tersentral di empat kecamatan meliputi Towuti, Nuha, Wasuponda dan Malili.

4. Lada Putih Malonan Kutai Kartanegara

Sumber: DJKI

Lada yang bermula berkembang dari Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan ini memperoleh sertifikat indikasi geografis Lada Malonan bernomor G 0000000088 dari DJKI pada 21 Januari 2020. Lada kebanggaan masyarakat Kalimantan Timur ini dibawa oleh pendatang dari Bone dan Soppeng (Sulawesi Selatan) pada 1976 lalu itu memiliki produktivitas terus meningkat.

Selain memperoleh sertifikat IG, kabar menarik lainnya bahwa jenis varietas lada Malonan ini merupakan varietas unggul dari Menterian Pertanian dengan SK 448/Kpts/KB.120/7/2015.

Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Lada Malonan boleh bangga karena lada mereka memliki keunggulan mengandung minyak astiri sebesar 2,35%. Kandungan lain yakni oleoresin mencapai 11,23%, dan piperin 3,82%. Tidak heran dengan dua predikat IG dan varietas unggul, petani lada antusias terus mengembangkan luas tanaman lada.

Terbukti dengan perkembangan luas lahan dan produktivitas yang meningkat. Pada 2017 luas lada mencapai 11.000 Ha dengan produksi 7.992 ton dan bertambang luasan pada 2018 mencapai 11.500 Ha dengan produksi 8.674 ton.


Baca: Dubes RI di Malaysia Pamer Kopi Indikasi Geografis Indonesia

Deo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.