Melindungi Hiu Paus Dari Perburuan Ilegal

Bagian 2
Yanuarius Viodeogo
Hiu Paus dengan nama latin Rhincodon Typus sering muncul di hampir wilayah perairan Indonesia mulai dari Sabang, Pantai Utara Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Alor Flores, Kalimantan, Sulawesi, Maluka dan Papua.


Namun, Teluk Cendrawasih merupakan perairan yang beruntung karena ikan yang panjangnya bisa mencapai 7-8 meter dan 20 ton ini dapat dilihat sepanjang tahun. Sementara di perairan seperti Aceh dapat ditemui pad Maret-April, Pangandaran (Agustus-September), Madura (September-November), Probolinggo (Januari-Mei), dan Timor-NTT (Agustus-November).

Baca: Teluk Cendrawasih Pelindung Hiu Paus Pongo Jim Mayo (bagian 1)

Dengan munculnya hiu paus di sejumlah perairan di Tanah Air maka penelitian terhadap hiu paus semakin gencar dilakukan WWF-Indonesia dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Tetapi wilayah Teluk Cendrawasih menjadi lokasi pertama dan fokus utama penelitian ikan itu.

Penelitian dilakukan seiring dengan keluarnya Keputusan Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan No. 18 Tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus. Kepala Seksi Perlindungan dan Pelestarian Ikan Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan KKP Sarminto mengatakan populasi hiu paus mulai mengkhawatirkan.

Dia mengatakan individu ini terancam tidak hanya di Teluk Cendrawasih tetapi di wilayah perairan Indonesia lainnya. Walau statusnya dilindungi penuh oleh Pemerintah Indonesia, tetapi tetap saja terancam punah.

Adapun kondisi yang mengkhawatirkan tersebut a.l pertumbuhannya yang lambat karena reproduksi dimulai usia 30 tahun, terkena mata kail nelayan, terdampar di pesisir pantai, dan menjadi buruan nelayan untuk diperdagangkan secara ilegal.

Dia mengatakan tidak memiliki angka pasti seluruh jumlah hiu paus di Indonesia. Tetapi, lanjutnya, kepunahan terbesar mengintai ikan ini karena dua hal yaitu maraknya penjualan secara ilegal dan terdampar di pesisir.

“Sirip hiu paus ini laku di pasar. Secara internasional diperdagangkan karena masuk kategori appendik 2 atau masih tergolong diperjualbelikan internasional,” kata Sarminto.

Dari sejumlah penelitian menyebutkan ditemukan pangkalan penjualan daging hiu paus di Indonesia seperti di pasar ikan Kedonganan, Bali yang menjual spesies ini, pada 2007.

Sedangkan kepunahan lainnya ditemukan karena terjerat jaring nelayan yang terjadi di Tapanuli Tengah-Sumatra Utara dan Kenjeran-Surabaya, pada 2012. Ketidaktahuan nelayan menyebabkan hiu paus akhirnya mati dan bagian tubuhnya dijual ke masyarakat.

Sarminto mengungkapkan pihaknya terus mensosialisasikan status ikan itu kepada masyarakat. Usaha KKP pelan-pelan berhasil.

“Masyarakat sendiri pasang plang tepi pantai bahwa ikan itu dilindungi. Di laut, mereka pasang rambu untuk menahan laju hiu paus menabrak bagan nelayan. Kalau terdampar, masyarakat harus mengusir ke arah laut,” tuturnya.

Kwatisore

Dari hasil pemantauan oleh WWF-Indonesia bersama Balai Besar TNTC, Hubbs-Sea World Research (HSWRI), terdapat sebanyak 100 individu hiu paus di Kwatisore, TNTC. Kepala BB TNTC Ben G. Saroy mengatakan Kwatisore merupakan habitat penting hiu paus di TNTC sebagai lokasi konservasi terbesar kedua di Indonesia.

“Kita bisa melihat hiu paus sepanjang tahun selama 1 jam di atas permukaan air, kalau dikelola dengan baik dapat menjadi potensi wisata unggulan Indonesia,” kata Ben G.

Dia begitu bersemangat menceritakan ikan raksasa yang berada di wilayah kerjanya itu. Perjalanan panjang dari Jayapura-Jakarta yang membuat fisiknya letih karena baru tiba pagi itu, tak menghalangi pria berkacamata ini menunjukkan video hiu paus kepada kami.

Dengan lancar dia mengatakan individu-individu hiu paus di Kwatisore sama seperti hiu paus di wilayah perairan Indonesia lainya yang melakukan migrasi. Dengan menggunakan Pop-up Archival Satelite Tag (PSAT), ikan itu bergerak secara vertikal kedalaman 200 meter perairan TNTC atau horizontal menuju ke laut samudra pasifik dan kembali lagi ke TNTC.

Karena sering kembali ke TNTC itulah, yang membuat ikan ini mudah dijumpai sepanjang tahun. Tetapi, lanjutnya, pengelolaan wilayah TNTC supaya tetap terjaga membutuhkan kepedulian semua pihak.

Ancaman bukan datang dari jeratan bagan atau karena terdampar.

Ben menuturkan kepunahan suatu saat tiba waktunya jika ekosistem di perairan itu tidak dijaga seperti perairan di Indonesia lainnya yang keruh, rusaknya ekosistem laut dan pencurian ikan sebagai rantai makanan hiu paus.

Deo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.