Kratom Biaya Sekolah Anak Hingga Tabungan Masa Depan

Naskah tentang tanaman kratom yang pernah ditulis untuk Bisnis Indonesia ini saya tampilkan kembali. Kratom bagi masyarakat sebagian di Kalimantan Barat memiliki nilai jual yang tinggi. Mereka mampu membiayai sekolah anak hingga kuliah. Pendapatan meningkat untuk tabungan hari tua dari kratom Borneo itu.

Yanuarius Viodeogo

PONTIANAK – Harapan membuncah, asa terjaga dari para peladang yang mengandalkan hasil lahan dan hutan yaitu tanaman Kratom sebagai mata pencaharian utama.

Kala komoditas karet tak bisa diandalkan akibat harganya yang sering terjun bebas, mereka punya kratom supaya dapur tetap mengepul dan menyekolahkan anak.

Faisal, juga pengepul dan produsen yang menyulap bahan mentah daun kratom menjadi tepung (kratom powder) siap diekspor ke sejumlah negara. Di pabriknya, daun-daun itu diremah dan diekspedisi. Dia pernah untung hingga Rp1 miliar dan Rp4 miliar karena permintaan dari sejumlah negara tinggi.

Faisal sangat antusias menceritakan usahanya kepada saya di hotel bintang 4 Pontianak, Jumat (24/2/2017) lalu. Dia menunjukkan teh-teh celup dengan bahan baku daun kratom di piring makan sebagai teman pendamping camilan untuk para tamu seminar anggota AKB.

Hari itu, Dirjen Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid menjadi pembicara seminar.

“Saya berencana menambah lagi lahan untuk menanam kratom. Sekarang punya 5 ha. Saya mulai berbisnis ini sejak 2006 lalu, walau masih ingin punya laboratorium pengujian tanaman ini,” kata Faisal yang memiliki pabrik remahan daun kratom kering di Kecamatan Delta Pawan, Ketapang.

Baca: Melirik 4 Daerah Penghasil Lada Bersertifikat Indikasi Geografis

Leo pemuda berusia 30 tahun asal Pontianak memiliki home industry membuat balsam dan produk turunan lain dari komoditas tersebut dengan nama usaha Kingdom Herb.

Lulusan sarjana desain grafis ini, mampu meraup keuntungan kotor hingga Rp30 juta sampai Rp40 juta dengan tenaga kerja sebanyak 5 oran. “Balsem ini harganya Rp60.000,” tutur Leo yang merintis usaha ini sejak awal 2016 lalu.

Ketua AKB Suhairi menyebutkan dalam sehari dari Kalbar saja bisa mengirim bubuk ini ke negara lain mencapai 9 ton per hari melalui jasa pengiriman paket kantor pos. Angka fantastis apabila dilirik dengan serius oleh pemerintah daerah untuk pemasukan kas daerah.

Suhairi berasal dari Kecamatan Jongkong, Kabupaten Kapuas Hulu. Kecamatan ini adalah sentra terbesar penghasil kratom Kalimantan barat. Puluhan tahun masyarakat di sana menggunakan tanaman dengan bahasa lokal purik ini untuk kebutuhan obat tradisional khususnya mengobati rasa nyeri pada urat dan tulang manusia.

“Tanaman ini tumbuh alami di hutan dan tepi sungai. Pada satu hari, lahan tanaman karet warga terkena banjir dan rusak, tetapi tanaman kraton tumbuh dengan cepat tidak seperti karet sehingga warga mencoba serius untuk memperluas lahan dan berhasil,” katanya.

Alhasil, tanaman kratom menjadi pendapatan utama warga Jongkong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Supaya harga beli bisa ditingkatkan lagi maka Suhairi membina petani dari mengawasi pasokan rantai produksi hingga distribusi. Daun ini tidak boleh kotor, jadi petani tidak boleh menjemur di bawah terik matahari di pinggir jalan guna menghindari debu dan tanah.

Selain itu, petani diajarkan cara teknik memetik daun dengan mengambil pucuknya untuk menghasilkan daun hijau berkualitas A atau di daftar internasional disebut Kratom Borneo. “Kalau sudah kering daunnya kami beli Rp20.000 per kilogram atau Rp30.000-Rp35.000 yang diremah dan tidak boleh dicincang.”

Persoalannya tidak cukup sampai di situ, Suhairi bersama petani kratom dan pelaku usaha lainnya termasuk eksportir dilanda kecemasan akibat desas-desus kratom dilarang atau tidak. Padahal, Peraturan Kementerian Kesehatan No. 2/2017 menyebutkan kratom adalah merupakan golongan tanaman obat tradisional.

“Kratom adalah obat tradisional yang tertuang dalam permenkes dan UU No. 36/2009 tentang Kesehatan karena masuk riwayat tanaman empiris atau turun temurun,” kata Kasi Fasilitas Kesehatan Pelayanan Kesehatan Kesejahteraan (Yankestra) Kemenkes Aldrin Neilwan.

Pihaknya di Yankestra terus mendorong hingga ke tingkat pemerintah daerah supaya meneliti dan mengembangkan komoditas tanaman lain yang memiliki potensi sebagai obat tradisional.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid berharap komoditas ini memiliki nilai jual yang tinggi dan bisa menjadi pemasukan negara kalau semua rutin menggelar dialog dalam memetakan potensi masa depan kratom.

“Terus lah melakukan dialog antara asosiasi, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perdagangan, dan pemerintah daerah. Kalau kami di direktorat mendokumentasikan setiap warisan tradisional menjadi pengetahuan dan termasuk tanaman ini yang merupakan warisan turun temurun di Putussibau (Kratom Kapuas Hulu),” ucapnya.

Masih dari Kapuas Hulu, warga di salah satu kecamatan perbatasan dengan Malaysia berharap Kratom tidak dilarang. Kehilangan Kratom berarti kehilangan pendapatan pula.

Karena Kratom juga, menurut mereka, menolong biaya pendidikan anaknya yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri di Pontianak.

Ilustrasi: Kratom. Sumber Pixabay

Deo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.