Ketangguhan Komunitas Sipil Mengelola Pesisir Laut Cegah Kerusakan Mangrove Batu Ampar

Keterangan: Tambak kosong sepi pembeli karena pandemi Covid-19.Foto: Yanuarius Viodeogo

Kehadiran komunitas sipil mendukung pelaksanaan Sustainable Developments Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dengan target menjaga ekosistem kelautan membuat masyarakat sekitar pesisir menjadi lebih tangguh.

Peran masyarakat sipil terbukti dan berhasil dalam upaya mengelola dan melindungi kawasan pesisir laut dan mangrove sekaligus membuka gerbong akses pasar lebih luas terjadi di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Dari ujung dermaga, saya melihat raut wajah mereka begitu optimistis komoditas kepiting bakau dan madu manis mangrove bisa membawa secercah harapan meneruskan warisan hutan mangrove dari orang tua mereka tetap supaya tetap lestari. Para peneliti Universitas Diponegoro telah membuktikan peran mangrove berperan menjaga kualitas air untuk pemeliharaan binatang laut berlindung dan berkembang biak seperti kepiting.1
 

Serpihan Cerita Masa Lampau Warga Batu Ampar

Tidak terasa jarum jam terus beranjak beriringan dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat dermaga. Usai menyantap makan malam, saya melihat langsung kayu-kayu mangrove hasil penebangan yang telah kering siap masuk ke dalam pembakaran.

Ini kali pertama, saya melintasi tungku-tungku pembakaran yang membuat kepala pusing. Zat hasil pembakaran kayu mangrove menjadi arang begitu tajam menusuk hidung.

Arang yang telah dibakar siap dikirim ke luar Kabupaten Kubu Raya untuk dieskpor hingga luar negeri. Tungku-tungku pembakaran kayu mangrove itu bukti bahwa masih terjadi aktivitas penebangan pohon pelindung pantai dari abrasi air laut di Batu Ampar. Hampir 90% masyarakat Batu Ampar mengandalkan produksi arang.2

Dermaga Batu Ampar berhadapan langsung dengan hamparan mangrove.

Pohon mangrove sebagai tanaman yang melindungi ombak laut terancam terkikis akibat ditebangi secara masif oleh warga Batu Ampar. Luas mangrove di kawasan Batu Ampar mencapai 49.255,05 hektare (Ha) pada 2019. Terjadi penyusutan mencolok, pada 2012 seluas 99.532,90 Ha dan pada 2014 sebanyak 65.585 Ha. Eksploitasi pemanfaatan kayu mangrove untuk bahan bakar atau arang menjadi penyebab luas hutan mangrove Batu Ampar menipis.3

Namun, itu dulu. Kini, pendampingan dari masyarakat sipil dan pemerintah berhasil mengalihkan sebagian penebang sebagai pembudidaya kepiting bakau dan madu mangrove. Sebagian dari mereka telah menemukan jalan keluar meninggalkan profesi sebagai penebang pohon mangrove.

Baca: Sensasi Minum Madu Kelulut Kubu Raya

Skema Hutan Desa

Pesona Kalbar Hijau ketika itu mengusulkan status hutan desa di Kecamatan Batu Ampar untuk budidaya kepiting bakau. Dari rencana pengembangan usaha, kolaborasi masyarakat sipil berhasil mendapatkan dana segar pengembangan usaha kepiting bakau dan madu pada 2017.

Sebanyak 10 desa di Batu Ampar memperoleh dana dari Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan (P2H), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan senilai Rp19 miliar.5

Dana tersebut untuk membangun sebanyak 400 keramba kepiting. Dari dana yang tersedia, masing-masing orang kelompok nelayan kepiting memperoleh pinjaman uang sebesar Rp161 juta.6
Langkah sukses memperoleh dana tersebut mereka kembangkan lagi untuk budidaya kepiting bakau.

Niat mulia masyarakat membuahkan hasil. Dalam perjalanan waktu, cita-cita masyarakat dalam pengembangan demplot budidaya kepiting bakau tercapai. Panen perdana dihadiri Gubernur Kalimantan Barat, pada Desember 2019 silam. Pesona Kalbar Hijau mampu menerjemahkan keterlibatan masyarakat sipil yang merupakan bagian dari aktor pembangunan dalam merancang dan melaksanakan SDGs.

Pertengahan 2020 menjadi petaka bagi masyarakat Batu Ampar yang kehilangan mata pencaharian karena pandemi Covid-19. Masyarakat terpukul karena penggerak ekonomi kepiting bakau terhenti pada Mei 2020. Keran penjualan kepiting benar-benar tertutup rapat.

Padahal, mereka sudah bersiap mengirim untuk kedua kalinya kepiting bakau untuk konsumen di Jawa Bali, Malaysia dan Singapura pada tahun tersebut. Ekspor perdana yang berlangsung pada Desember 2019 lalu terkirim hingga mencapai 766 kilogram dari potensi produksi kepiting sebanyak 2,5 ton.7

Komunitas sipil sempat khawatir, masyarakat Batu Ampar akan kembali menebang pohon mangrove.

Penyelamat Itu Bernama Madu Mangrove

Ketangguhan masyarakat Batu Ampar kembali diuji ketika pandemi Covid-19 menyerang dunia. Kepiting di keramba mulai menipis karena restoran dan rumah makan penampung kepiting bakau Batu Ampar tutup. Alih-alih bakal memperoleh pengganti pendapatan lebih baik dari menebang pohon mangrove malah justru mengalami kerugian sesaat.

Kehilangan komoditas andalan hampir membuat masyarakat kehilangan harapan. Rantai produksi kepiting bakau berhenti tidak hanya di bagian hilir saja. Bagian hulu, pemasok bibit kepiting dari Jepara tidak lagi mengirim bibitnya ke Kubu Raya karena Covid-19.

Beruntung ketika pengajuan pendanaan hutan desa, Pesona Kalbar Hijau ketika itu tidak hanya mengandalkan pengembangan komoditas kepiting bakau saja. Sembari budidaya kepiting, mereka mendorong budidaya madu manis yang dihasilkan dari pohon-pohon mangrove.

Pandemi Covid-19 ibarat durian runtuh bagi petani madu mangrove Batu Ampar. Permintaan madu pada pertengahan 2021 melonjak tajam. Dede Purwansyah, Direktur Pesona Kalbar Hijau berujar kepada saya, bahwa pada awal 2021 permintaan menurun drastis. Tetapi memasuki Juli 2021 ini, permintaan madu mencapai 2,8 ton.


“Permintaan sangat signifikan, awal tahun sempat turun. Selama 2020 ini mencapai 5,6 ton dan sekarang pertengahan sudah mencapai 2,8 ton,” ujarnya.

Apa yang diutarakan oleh Dede kembali meyakini kita semua mampu mencapai target nomor 14 SDGs8 yakni menjaga ekosistem kelautan. Secara rinci, target-target terkait ekosisim kelautan yakni mengelola secara berkelanjutan dan melindungi ekosistem laut dan pesisir dengan melakukan aksi restorasi agar mencapai kelautan yang sehat dan produktif, menyediakan akses terhadap sumber daya kelautan dan pasar bagi nelayan kecil.


1. Istiyanto Samidjan dan Diana Rachmawati. Staf Dosen Program Studi Budidaya, Universitas Diponegoro. Peranan Mangrove Sebagai Shelter Budidaya Kepiting Bakau Cangkang Lunak Terhadap Peningkatan Pertumbuhan dan Kelulushidupan Kepiting. Pena Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Universitas Pekalongan. 2014.
2. https://kalbar.antaranews.com/berita/359403/warga-batu-ampar-pertahankan-pembuatan-arang-mangrove
3. Abdul Jabbar, Rossie W. Nusantara dan Aji Ali Akbar. Valuasi Ekonomi Ekosistem Mangrove Berbasis Ekowisata Pada Hutan Desa di Kecamatan Batu Ampar Kalimantan Barat. Jurnal Ilmu Lingkungan, Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP. Volume 19 Issue 1 (2021): 140.152
4. Koalisi LSM Mengapresiasi Terbitnya Perpres Sustainable Development Goals (sdg2030indonesia.org)
5. Empat kelompok tani hutan KKR peroleh pinjaman BLU – ANTARA News Kalimantan Barat
6. https://pontianak.tribunnews.com/2019/01/23/bangun-keramba-kepiting-di-batu-ampar-dede-rargetkan-produksi-30-ton-kepiting-per-bulan
7. https://pontianakpost.co.id/panen-raya-kepiting-bakau-di-batu-ampar/
8. Tujuan 14 (sdg2030indonesia.org)

Deo

One thought on “Ketangguhan Komunitas Sipil Mengelola Pesisir Laut Cegah Kerusakan Mangrove Batu Ampar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.