Kala Permintaan Lada Stabil Saat Pandemi Covid-19

                                                                  Erni Marcelin, Petani Lada

Yanuarius Viodeogo

Pandemi Covid-19 membuat sejumlah wilayah di Indonesia terpukul yang menyebabkan berbagai sektor industri berhenti operasional sampai para pekerja kehilangan penghasilan.

Kendati demikian, denyut ekonomi masih berputar normal seperti terjadi di Kabupaten Bengkayang khususnya aktivitas perkebunan lada karena pada Juli 2020 bakal berlangsung panen besar komoditas itu.

Petani sekaligus pemilik lahan sudah tidak sabar panenmenanti pundi-pundi cuan yang bakal mereka terima dari para pengepul.

Petani atau pengepul membawa lada putih atau hitam yang hendak diserap untuk kebutuhan pasar tradisional, pasar modern hingga lembaga perkreditan.

Masa panen yang segera tiba, tentu menjadi berkah bagi warga yang membutuhkan tambahan penghasilan.

Erni Marcelin, salah satu pemilik lahan lada di Kecamatan Seluas, Bengkayang mengatakan sangat membutuhkan para pekerja untuk memanen lada agar rempah-rempah itu bisa memenuhi pasokan pasar di Kota Bengkayang hingga di distrik Serikin, Malaysia.

“Orangtua saya biasanya membutuhkan tenaga kerja untuk panen Juli 2020 nanti sekitar 8-10 orang. Mereka warga sekitar. Sejauh ini aman [tidak tertular Covid-19],” kata Erni kepada saya, belum lama ini.

Erni berdomisili di Kota Pontianak, ibukota Kalimantan Barat yang berjarak kurang lebih 212,2 kilometer dengan Kota Bengkayang.

Dia memiliki area perkebunan lada tepatnya di Desa Sahan.

Kondisi pandemi Covid-19 membuatnya tidak bisa pulang ke desa itu untuk melihat 1.500 pohon.

Baca: Ketumbar Bikin Imun Meningkat Hadapi Covid-19

Ibu dan bapak Erni melarangnya pulang ke Bengkayang sampai kondisi berlangsung pulih.

Dampaknya, beban pengawasan kebun untuk sementara waktu ini sepenuhnya di tangan mereka.

Erni mengatakan dengan tambahan tenaga kerja dari warga sekitar perkebunan bisa meringankan kedua orangtuanya. Mereka nanti bekerja tidak hanya masa panen saja tetapi membantu pasca panen.

“Setelah Corona [Covid-19) berakhir, kami mau tanam kakao,” ujarnya.

lada max

Harapan pandemi Covid-19 segera berakhir juga menjadi harapan Kori Adi, petani dari kabupaten yang sama dengan Erni.

Walau wabah ini membuat sebagian rumah makan, restoran, kedai yang menggunakan rempah-rempah lada tutup, tidak membuat permintaan lada milik Kori surut.

Petani sekaligus CEO DM Farm ini mengolah hasil lada bubuk dari hulu hingga hilir mengaku permintaan masa pandemi Covid-19 tetap stabil. Kendati harga sekarang sedang anjlok.

“Ya cuma stok lada [sekarang] tidak ada karena belum panen,” ucapnya.

Kori Adi tidak sekadar memiliki pohon lada, panen dan menjual biji  ke penampung akhir. Dia memproduksi pula biji menjadi bubuk. Malah turunannya sudah kini memiliki label.

Dia menamakan mereknya, Lada Max. Biji lada yang dipetik dari lokasi kebun Dawar, Desa Pisak, Kecamatan Tujuh Belas, Kabupaten Bengkayang ini diolah dari biji terbaik.

lada max

Kori memproduksi dua jenis lada bubuk yakni putih dan hitam. Kendati biaya perawatan seperti pupuk dan obat pengusir hama mahal, Kori tidak berpaling menjaga kualitas.

Dengan kualitas yang terjaga, menurutnya, bisa membuat varietas dari Bengkayang bersaing dengan varietas Lampung, Belitung bahkan Vietnam.

“Mimpi saya, semoga petani  (di Bengkayang) bisa jadi mitra saya tetapi dengan catatan kualitas harus dijaga. Saya tetap ambil dengan harga standar,” jelasnya.

Adapun titik sebaran varietas lada Bengkayang selain di Seluas, terdapat di Kecamatan Tujuh Belas, Kecamatan Sanggau Ledo, dan Kecamatan Suti Semarang.

Lada Max mulai diproduksi pada 2017 setelah mendapatkan Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK) Pemerintah Kota Pontianak.

Deo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.