Indikasi Geografis Melindungi Kopi Samosir

Ilustrasi: Biji kopi siap giling

Yanuarius Viodeogo
JAKARTA — Bupati Kabupaten Samosir, Rapidin Simbolon begitu tampak senang, usai menerima sertifikat Indikasi Geografis secara resmi dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Penyebabnya, perjuangan Pemda Samosir (Sumatra Utara) dalam mendorong komoditas biji kopi Samosir selama 1,5 tahun untuk meraih sertifikat perlindungan IG tersebut tidak mudah.

Hasilnya kini berbuah manis, Rapidin mewakili penduduk Samosir untuk menerima sertifikat tersebut, bertepatan dengan pergelaran Festival IG yang pertama kali diselenggarakan oleh DJKI dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) di Jakarta, Sabtu (8/12/2018) lalu.

Dia ketika berbincang kepada Bisnis mengutarakan, dirinya dan bersama pemerintah daerah menjadi lebih bersemangat lagi untuk memperkenalkan Kopi Samosir kepada konsumen yang lebih luas terutama untuk memasarkan komoditas tersebut di gerai-gerai perhotelan dan coffee shop.

“Kami akan memberikan alat-alat pertanian kopi, membangun infrastruktur jalan ke daerah-daerah penghasil kopi, pelatihan. Apalagi, kalau dipromosikan [lebih masif] pasti petani semakin bersemangat lagi. Di sektor hulu para petani memproduksi kopi, di sektor hilir ada pengusaha, coffee shop, pengelola hotel, kami juga ada Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah] yang memasarkan ke konsumen dan wisatawan,” kata Rapidin.


Kopi Samosir adalah kopi jenis arabica. Kopi kategori arabica karena berdasarkan data Pemkab Samosir berasal dari wilayah dataran tinggi Pulau Samosir, ditanam di lahan seluas 4.913,24 hektare dengan ketinggian 1.450 di atas permukaan laut (mdpl).

Sekarang ini, ada sebanyak 5.000 ton produksi kopi dihasilkan oleh para petani yang dominan berada di kepulauan Samosir, kendati juga ditanami di luar kepulauan. Menurut Rapidin, kepulauan tersebut memang lebih cocok ditanami kopi jenis arabica karena merupakan bekas kawasan gunung berapi.

“Semburan larva letusan gunung merapi membuat lahannya subur dan berpengaruh pada kualitas terbaik tanaman kopi. Dan itu membuat, 70% penduduk Samosir tergantung dengan pertanian kopi. Penghasilan, sudah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bisa mensekolahkan anaknya dari pertanian kopi Samosir,” tutur Rapidin.

Ilustrasi: Biji kopi dalam karung

Rapidin dinilai begitu paham saat bercerita tentang karakteristik tanaman kopi ini hingga cara pemda melindungi para petani kopi supaya terjamin kesejahteraannya. Dia ingin sekarang tanaman kopi bisa dikembangkan terus supaya banyak peminat dari luar Sumut membeli kopi Samosir.

Saat ini saja, kopi-kopi Samosir telah dibeli produsen terkenal seperti Starbuck, produsen dari Thailand dan negara-negara Eropa. Hal itu tidak lepas, menurutnya, karena para petani kopi telah dibekali pelatihan untuk menghasilkan biji dari gabah ke roasting supaya memiliki nilai tambah berkali-kali lipat.

“Kalau gabah saja 30.000 per kilogram, tetapi kalau sudah roasting bisa mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram,” tuturnya.

Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia Ricky Joseph Pesik mengatakan, daerah atau pelaku yang memperjuangkan suatu produk tidak cukup dengan selembaran perlindungan sertifikat IG. Tantangan ke depan di industri ekonomi kreatif, menurutnya, justru sangat berat.

Ricky mengutarakan, pemasar global mempunya upaya agresifitas yang ingin memanfaatkan sumber-sumber produk khas suatu daerah untuk menguntungkan pihaknya karena mereka mempunyai kemampuan memasarkan produk lebih luas.

“Saya masih ingat contohnya Kopi Toraja berkasus dengan Jepang. Indonesia saat itu berhasil mengalahkan Jepang [salah satu produsen kopi] supaya mencabut nama Kopi Toraja Arabika dari merek mereka, tetapi itu tidak menghentikan upaya agresifitasnya. Mereka ganti nama Kopi Toraja dan disingkat nama lain,” kata Ricky saat memberikan penjelasan sebelum memberikan sertifikat perlindungan pada Festival IG.


Sehingga, kata Ricky, pemangku kepentingan dan pelaku usaha kreatif di Indonesia tidak bisa menunggu tanpa berbuat apapun karena pelaku usaha global menyasar produk khas-khas suatu daerah dan dikemas ulang agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi lagi.

Baca: Melirik 4 Daerah Penghasil Lada Bersertifikat Indikasi Geografis

Oleh karena itu, sejak 2016 Deputi Hak Kekayaan Intelektual dan Harmonisasi Regulasi Bekrat bergerak membina dan memberikan dukungan produk IG melalui Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG).

Dari komunitas ini, ada 36 produk IG yang tengah difasilitasi Bekraf dikerjasamakan dengan asosiasi designer IG Indonesia (DIGI) salah satunya membuat kemasan ulang produk IG agar bisa bersaing di pasar global.

Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Kementerian Hukum dan HAM Razilu, sebelumnya adalah Direktur Teknologi Informasi Kekayaan Intelektual DJKI, Razilu mengutarakan, pemahaman masyarakat terhadap IG masih rendah termasuk manfaat dari IG dan setelah mendapatkan IG setelah terdaftar di DJKI.

Sertifikat IG, papar dia, memiliki keuntungan yaitu memberikan perlindungan dan kepastian kepada masyarakat pemilik IG tingkat nasional dan internasional.

Walau tidak terdaftar di tingkat internasional tetapi tetap memiliki perlindungan hukum apabila terjadi persoalan hukum. Kedua, mencegah penggunaan tidak sah dari pihak tidak berkepentingan. Ketiga, konsumen yang menggunakan produk IG yang terjamin kualitas berstandar tinggi. Keempat, produk IG berdampak menambah nilai ekspor negara.

“Kelima, meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi produsen dan pemilik IG dan wilayah yang menghasilkan produk IG. Terakhir, keenam mendorong industri pariwisata. Semakin banyak orang mengenal produk itu, mereka pasti ingin lokasi penghasil IG,” ujarnya.

Untuk mengajukan pendaftaran produk IG juga, menurutnya, tidak sulit bagi masyarakat. Tidak perlu hadir memohonkan pendaftaran ke Jakarta, cukup dengan online tetapi harus sudah menyiapkan data yang lengkap.

Saat ini ada 72 produk IG terdaftar di Kemenkum dan HAM, terdiri dari 64 produk milik Indonesia dan 8 produk IG dari luar negeri. Pada tahun ini, bertambah lagi dua produk IG yang meraih sertifikat perlindungan yaitu Bareh (beras) Solok dari Sumatra Barat, dan Kopi Samosir.

(Bisnis Indonesia)

Deo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.