Harum Bawang Merah Kalbar Ilmu Dari Brebes

Ilustrasi: Bawang Merah. Sumber Pixabay

Dinas Pertanian Kalimantan Barat menemukan sosok petani sukses bawang merah Brebes (Jawa Tengah) yang diboyong ke Kabupaten Melawi untuk mengolah lahan tidur sebagai tanah produktif. Langkah tersebut tidak sia-sia, kini salah satu kecamatan di Kabupaten Melawi menjadi sentral produksi bawang merah Kalimantan Barat.

Saya menulis kisah tersebut saat di Bisnis Indonesia dan kembali menampilkan di website ini setelah melihat totalitas Dinas Pertanian Kalbar. Curah hujan dan tanah yang subur di Melawi disulap oleh petani Brebes bisa menghasilkan bawang merah bahkan lebih harum dari bibit aslinya.


Berikut kisahnya:

PONTIANAK – ‘Tidak berhasil jika tidak mencoba,’ Pepatah itu dilakoni Taswadi, seorang petani yang berhasil mengembangkan budi daya varietas bawang merah Brebes, di Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat.

Petani berusia 46 tahun ini, tidak ragu sedikit pun menanam bibit varietas bawang merah Brebes di atas lahan 1,5 hektare di Dusun Lengkong Yadong, Kecamatan Ella Hilir. Wajahnya sumringah, kala menceritakan pengalamannya menanam bawang merah kepada saya.

Dia meninggalkan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, memilih menjadi petani transmigran guna mengembangkan komoditas itu di Kabupaten Melawi sejak pertengahan 2004. Taswadi sesungguhnya memang adalah petani di Brebes, tepatnya di Kecamatan Larangan.

Kesuksesannya membudi daya varietas bawang merah Brebes sejak 1979 membuat Dinas Pertanian Provinsi Kalbar kepincut mendatangkan langsung Taswadi dan rekan-rekannya ke Melawi.

Sesekali menunjukkan dan menguliti satu siung bawang merah kepada saya, Taswadi menceritakan bahwa dia merupakan salah seorang pengurus inti pengembangan bawang di kecamatan yang merupakan satu di antara sentra penghasil bawang merah terbesar, di Tanah Air itu.

“Tanah dan cuaca di Melawi sangat cocok untuk ditanam bawang merah. Malahan dibandingkan dengan bawang yang didatangkan dari Jawa, bawang yang kami produksi di Melawi ini, aromanya lebih harum dan pedasnya terasa,” kata Taswadi.

Dia mengatakan memang lahan yang digunakan untuk menanam bawang merah belum luas karena masih tahap percobaan yaitu baru mengembangkan seluas 1,5 hektare. Meski demikian, sejak memulai tanam pada September 2014, kini sudah dapat menghasilkan 8-10 ton bawang.

Baca: Kratom Biaya Sekolah Anak Hingga Tabungan Masa Depan

“Minimal kalau tanam 5 kwintal bibit di lahan 0,5 hektare maka hasilnya minimal 4 ton dengan jadwal masa tanam hingga panen tiba, selama 2 bulan,” katanya. Di Melawi, total ada 3 kelompok petani dengan 1 kelompok mencapai 12 orang yang mengembangkan budi daya bawang.

Meski begitu, kata dia, ada perbedaan metode tanam dari petani bawang merah dari Melawi dengan Brebes. Menurutnya, petani di Melawi belum terbiasa menggunakan biji sebagai bibit tanam. Sehingga petani lebih memilih bibit umbi bima curut dan manjung itu.

Masa jadwal panen dengan bibit biji memang lebih lama yaitu 3 bulan sementara kalau langsung menggunakan umbi lebih cepat yaitu 60 hari.

“Pada April ini kami akan membantu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Desa Batu Nanta, Kecamatan Belimbing sebanyak 500 demplot meter persegi,” katanya.

Sementara, Kadis Pertanian Provinsi Kalbar Hazairin mengatakan pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian memprogramkan pengembangan budi daya komoditas itu di luar Jawa, termasuk ke Kalbar.

Dia mengatakan untuk saat ini, baru Kabupaten Kubu Raya, Kota Pontianak dan Kabupaten Melawi yang dipercayakan sebagai wilayah untuk mengembangkan komoditas itu. Bibit didatangkan langsung dari kluster varietas bawang merah Brebes.

“Pemerintah pusat minta kepada Kalbar bisa dikembangkan lahan seluas 15-30 hektare sehingga potensi produksi bisa menghasilkan 150 ton per tahun. Jadi kan sayang tanah dan iklim di sini cocok, kenapa tidak dikembangkan. Bawang cocok ditanam di Melawi,” katanya.

Untuk beberapa wilayah di Kota Pontianak, lanjutnya, ada yang mengembangkan menggunakan pot-pot dan berhasil di panen. Bahkan, pihaknya telah melakukan kerjasama dengan Lapas Kelas IIA Pontianak sehingga para warga binaan telah panen 400 kilogram bawang.

Padahal, Kota Pontianak membutuhkan 7 ton per hari atau hampir 20 ton per hari saja untuk seluruh Kalbar. Sehingga, menurutnya, dengan kelebihan produksi bisa mengisi produksi bawang nasional.

“Memang baru mencoba menanam, sejak tahun lalu dan ternyata berhasil. Ini upaya mengurangi ketergantungan bawang dari luar provinsi.”

Deo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.