Daftar Merek ke Luar Negeri Melalui Protokol Madrid

Foto ini situs World Intellectual Property Organization (WIPO) yang memperlihatkan keanggotaan organisasi tersebut. Sumber: https://www.wipo.int/members/en/

Belum banyak yang memahami pendaftaran merek internasional melalui sistem Protokol Madrid penting bagi pelaku bisnis orientasi ekspor.

Mekanisme itu disediakan oleh organisasi kekayaan intelektual dunia atau World Intellectual Property Organization (WIPO) untuk mengatur perlindungan kekayaan intelektual. Khususnya bagi pelaku bisnis yang ingin mereknya dikenal pasar luar negeri.

Saya mengutip dari buku yang saya tulis berjudul Benny Muliawan Penerobos Madrid, terbit pada 2020.

Protokol Madrid adalah proses pendaftaran menjadi lebih ringkas dan murah. Sebelum Protokol Madrid muncul, cara mengekspor barang ke negara A yakni si pemilik produk mendaftarkan mereknya satu per satu atau one to one.

Anda ingin barang anda beredar lebih dari satu negera, misalnya ke Jepang, ke kawasan Timur Tengah, Eropa dan Amerika Latin, berarti anda mesti satu-satu mengajukan permohonan pendaftaran merek ke masing-masing negara tersebut.

Baca: Somethinc Sukses Tembus 123 Negara Protokol Madrid

Cara tersebut tidak efektif dan terlampau mahal. Biasanya menggunakan harus menyewa agen merek lokal. Belum lagi waktu terbuang yang mengharuskan pelaku usaha bolak/balik ke kedutaan, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Hukum dan HAM.

Kalau anda mendaftarkan merek melalui Protokol Madrid lebih dari satu negara maka hanya merogoh kocek sebanyak CHF125. Angka itu adalah yang termurah untuk pendaftaran CHF merupakan mata uang Swiss Franc.

1 CHF senilai Rp14.180 per 7 Maret 2020.

Biaya minimumnya senilai CHF653 untuk label merek tidak berwarna alias black white (B/W).

Berarti apabila mengambil hanya 1 negara, biaya yang keluar yakni CHF653 ditambah CHF125. Sementara label merek berwarna senilai CHF903.

Seluk Protokol Madrid

Sejarah panjang mewarnai munculnya Protokol Madrid. Bermula saat 5 negara yakni Prancis, Swiss, Tunisia Spanyol dan Belgia menandatangani persetujuan di Kota Madrid.

Mereka menyusun sistem pendaftaran merek dagang dan jasa bagi negara anggotanya pada 1891 yang dikenal dengan perjanjian The Madrid Agreement Concerning International Registration of Marks. Berselang beberapa tahun disepakati Bureaux Internationaux Reunis pour la Protection de la Propriete Intellectuelle (BIRPI) didirikan pada 1893 di Prancis dengan tujuan melindungi karya seni, sastra, serta kekayaan industri dan menjadi cikal bakal WIPO.

Selanjutnya, tata cara permohonan disempurnakan lagi pada 14 Juli 1967 dengan ditandai terbentuknya WIPO yang beranggotakan dari berbagai negara. Mereka kemudian menyepakati mekanisme aturan hak kekayaan intelektual dengan standar internasional di Stockhlom, Swedia.

Mekanisme WIPO itu selanjutnya diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sah menjadi bagian dari organisasi PBB untuk menangani hal-hal yang terkait dengan isu fokus tentang Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dibentuk pada 1974.

Kehadiran WIPO memang untuk membentuk ekosistem internasional tentang kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) yang berstandar internasional. Bidang-bidang yang diakomodir di dalam IP seperti Paten, Merek, Desain Industri, Indikasi Geografis, dan Rahasia Dagang. Jangan lupa termasuk di dalamnya ada hak cipta yang mencakup buku, musik, lukisan, sinema, program komputer, database, seni memahat atau ukir, iklan, hingga teknik menggambar.

Barulah kemudian negara-negara tergabung dalam WIPO membuat kesepakatan besar dengan membuat perjanjian internasional bernama the Protocol Relating to Madrid Agreement Concerning the International Registration of Marks atau Protokol Madrid.

Persetujuan Protokol Madrid tersebut disepakati bersama oleh para anggota WIPO pada 1989. Tujuannya pada kesepakatan itu membuat sistem proses pendaftaran merek menjadi lebih fleksibel dan menyesuaikan hukum kekayaan intelektual masing-masing negara.

Adapun Indonesia berhak menjadi anggota WIPO pada 2 Oktober 2017 di Jenewa Swiss. Menariknya, Indonesia menjadi anggota ke-100 Protokol Madrid dalam sidang umum WIPO ke-57. Total saat ini ada sebanyak 193 anggota WIPO yang otomatis mereka sah memberlakukan sistem Protokol Madrid.

Deo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.