Buku Perdana

Benny Muliawan Penerobos Madrid

2020

Pada penghujung 2017, Benny mengunjungi California, Amerika Serikat untuk menghabiskan waktu berlibur bersama keluarga. Istri dan kedua anaknya diborong bersama. Di sana, mereka mengunjungi salah satu objek wisata terkenal yaitu Disneyland.

Temperatur kota Anaheium, California saat dikunjungi berkisar mulai dari 20 derajat Celsius hingga tertinggi 27 derajat Celsius.

Saat berada di Amerika Serikat, tak disangka di luar perkiraan, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) mengabari bahwa merek yang hendak didaftarkan Benny Muliawan melalui Protokol Madrid adalah yang paling siap.

Layaknya drama yang menegangkan, hari-hari pendaftaran merek menyelimuti Benny. Bagaimana tidak? dia sendiri harus berada di Jakarta mendaftarkan merek secara internasional itu langsung dengan mata kepalanya sendiri. Pengalaman tentu bersejarah dalam hidupnya. Tetapi Di sisi lain, sedang berpijak di Amerika Serikat.

Sebuah waktu yang mustahil untuk tiba dengan cepat berada di Jakarta.

Setiap detik dan rangkaian peristiwa tersaji di buku Benny Muliawan Penerobos Madrid, yang saya tulis tersebut. PT Elex Media Komputindo merupakan penerbit buku setebal 206 halaman ini.

Banyak kisah lain yang belum publik tahu, siapa sosok Benny Muliawan. Dan belum banyak orang tahu, kala profesi konsultan kekayaan intelektual dianggap sebelah mata sehingga membuat Benny harus membuktikannya dengan menempuh pendidikan konsultan di Universitas Indonesia.

Belum banyak orang pula paham hingga hari ini pentingnya mendaftarkan merek dagang atau jasa. Akibatnya, merek yang diciptakannya dipakai orang lain.

Tidak hanya berprofesi sebagai konsultan, Benny memiliki bisnis seperti coffee shop bernama Playroast. Bukan sembarang biji kopi bagi para pengunjung Playroast. Biji kopi harus bersertifikat Indikasi Geografis, salah satu turunan kekayaan intelektual.

Tinggalkan Balasan