Adopsi Energi Terbarukan Dari Sepakbola Jerman dan Prancis

  • Post author:
  • Post category:Ragam
  • Post comments:0 Comments

Gegap gempita final liga champions antara Paris Saint Germain (PSG) versus Bayern Munchen pada Senin (24/8/2020) baru-baru ini, melanda pecinta sepakbola seluruh dunia tidak terkecuali para penggemar dari Indonesia.

Hingar bingar final liga tertinggi di tanah eropa membuat mata tertuju pada capaian terbaik dari dua klub berjuluk Les Rouge et Bleu dan Die Roten.

Pertandingan antara kedua klub mewakili negara masing-masing itu mengingatkan saya atas upaya Prancis dan Jerman mendorong perubahan iklim melalui energi terbarukan.

Layaknya kiblat sepakbola, hampir pemain sepakbola seluruh dunia ingin bermain di daratan benua biru itu. Pecinta sepakbola juga demikian, mereka ingin sekali menonton langsung dari dekat pemain-pemain idolanya.

Industri sepakbola Eropa memang sudah menjadi magnet bagi penduduk muka bumi. Namun, di sisi lain belum sepenuhnya sebagai magnet bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk belajar energi terbarukan kepada masyarakat Eropa.

Padahal, Jerman dan Prancis adalah dua negara yang paling getol mendorong pergantian energi fosil (batubara) dan nuklir ke energi terbarukan seperti angin, air, matahari dan lain-lain.

Prancis misalnya, sebagai negara tempat berlangsungnya Paris Agreement atau kesepakatan Paris sebuah konferensi tingkat tinggi (KTT) dengan kesepakatan mengurangi emisi karbon dioksida dan gas rumah kaca.

Tujuan dari kesepakatan ini menjaga agar peningkatan emisi dan temperatur global di bawah 2 derajat celcius.

Prancis memang telah maju dalam bertindak soal energi terbarukan. Mereka dengan serius meninggalkan energi ‘jadul’ dan menyadari berbalih ke energi lebih ramah lingkungan.

Dikutip dari RMOL.ID, perusahaan listrik negara menutup pembangkit listrik nuklir yang telah beroperasi selama 40 tahun atau sejak 1977 lalu. Penutupan itu belum lama ini, pada Juni 2020.

Masih soal penutupan energi nuklir, pemerintah Prancis berencana pula menutup 12 reaktor lain hingga 2035 mendatang.

Niat serius Prancis sesungguhnya sudah di jalan benar dan mereka membantu negara berkembang seperti Indonesia agar mengembangkan juga energi terbarukan.

Kerjasama itu sudah terjadi pada 2017 lalu yakni letter of intent (LoI) antara PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dan pengembang dari Prancis untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tanah Laut berkapasitas 70 Megawatt dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Bali 1 dan Bali 2 berkapasitas 50 MWp, pada 2017 lalu.

Stadion Jerman Ramah Lingkungan.

Jerman juga mengikuti langkah Prancis dengan menutup energi fosil atau batubara. Dikutip dari Greeners.co, Jerman segera menutup 84 pembangkit listrik tenaga batubara selama 19 tahun ke depan.

Pada 2022 nanti, mereka akan menutup 24 pabrik pembakaran batubara dengan kapasitas 12,5 gigawatt dan 8 pabrik dengan kapasitas 18 gigawatt akan ditutup pada 2030.

Langkah yang sama dijalani oleh Jerman. Dengan kemajuan teknologinya, tidak sulit bagi Jerman memantapkan pilihan sebagai negara yang mengawal energi ramah lingkungan.

Dari aspek olahraga saja, klub-klub sepakbola di Jerman memilih energi ramah lingkungan. Seperti kandang Bayern Munchen memasang 380.000 unit lampu LED dan merupakan energi terbesar di Eropa.

Dikutip dari berita teknologi, energi LED itu bisa mengurangi 60% emisi karbon.

Cermin Eropa, Cermin Energi Bersih

Eropa adalah negara peradaban yang lebih maju sudah semestinya diikuti oleh Indonesia. Tidak ada alasan lagi bagi Indonesia untuk mengubah kebiasaan dari sebelumnya mengkonsumsi atau memproduksi energi batubara ke energi yang lebih ramah lingkungan.

Negara-negara Eropa sudah sadar kemajuan peradaban mereka mengembangkan sel surya hingga geothermal. Mereka telah memperhitungkan energi alternatif itu dengan matang. Biaya pembangunan sangat mahal di awal tetapi pada masa mendatang perawatan lebih murah.

Berbeda dengan produksi batubara baik pembangunan hulu dan mendorong bahan bakunya ke hilir membutuhkan biaya triliunan rupiah dan merusak lingkungan.

Keseriusan Prancis mendukung bumi terawat dari energi ramah lingkungan dibuktikan dengan investasi membangun proyek panas bumi di Muara Laboh, Provinsi Sumatra Barat berkapasitas 220 MW, Raja Basa (Lampung) sebesar 220 MW dan Lapangan Rantau Dedap (Sumatra Selatan) 240 MW.

Kita berharap kerjasama Prancis dengan Indonesia dalam pengembangan energi panas bumi dan laut diikuti oleh daerah lain. Sebagai negara kepulauan, biarlah batubara menjadi kekayaan yang tetap berada di perut bumi.

Dan Indonesia bisa memanfaatkan energi tak pernah habis seperti air laut, angin dan matahari. Mungkin kita masih sulit membuat dunia sepakbola seperti liga-liga di eropa tetapi mungkin kita bisa sama sejajar dalam memanfaatkan energi terbarukan.

Sumber:

https://migas.esdm.go.id/post/read/indonesia-tegaskan-komitmen-sukseskan-paris-agreement-pada-one-planet-summit

https://dunia.rmol.id/read/2020/06/30/441360/pembangkit-nuklir-tertua-di-prancis-ditutup-setelah-40-tahun-berdiri

https://greeners.co/berita/jerman-tutup-84-pembangkit-listrik-batu-bara-indonesia-kapan/

http://ebtke.esdm.go.id/post/2017/02/28/1571/kerja.sama.energi.terbarukan.dengan.prancis.pemerintah.dorong.harga.energi.yang.terjangkau

Tinggalkan Balasan