Nestapa First National Glassware Pailit

Yanuarius Viodeogo

JAKARTA — PT First National Glassware, produsen peralatan makan berbahan kaca, setelah resmi menyandang status pailit mulai melelang aset-asetnya.

Perjalanan perusahaan berakhir pailit itu bermula ketika perusahaan yang berdiri pada 30 Juni 1971 itu mengajukan permohonan restrukturisasi utang ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 25 Mei 2018 dan dikabulkan oleh majelis hakim.

Majelis menyatakan dalam putusan bahwa First National Glassware (FNG) mesti mengalami masa Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Sementara pada 28 Juni 2018.

Baca: Kepailitan dan PKPU Penyelesaian Wanprestasi

Hakim menyebutkan pertimbangan FNG mesti berada dalam PKPU karena tidak memproduksi lagi produk-produknya sehingga sulit untuk membayar utang kepada para kreditur. Ketika permohonan diajukan FNG, perusahaan memiliki tagihan utang sebesar Rp300 miliar kepada para kreditur. 

Dalam menjalani masa PKPU Sementara, pengadilan memerintahkan Rapin Mudiardjo dan Acep Sugiana sebagai pengurus PKPU. Dalam verifikasi utang piutang, tagihan FNG naik mencapai Rp600 miliar. 

Tagihan-tagihan itu berada di Bank ICBC Indonesia sebanyak Rp128 miliar, Bank Victoria mencapai Rp148 miliar dan Bank Panin sebanyak Rp35 miliar.

Kreditur lain pemegang piutang dari preferen yakni pajak dan karyawan sebanyak Rp200 miliar. Kreditur lain adalah konkuren sebanyak Rp89 miliar. 

 

Namun, dalam masa PKPU Sementara akan berakhir, pihak FNG tidak dapat mengajukan proposal perdamaian kepada pengurus dan kreditur sehingga berujung pada pailit. 

Majelis mengangkat kembali pengurus menjadi kurator kepailitan FNG untuk membereskan aset-aset perusahaan yang beralamat di Pulo Lentut No. 11, Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta ini. 

Kurator berhasil menyisir aset-aset FNG dan melakukan lelang atas aset tersebut. Acep mengatakan ada 6 paket aset senilai Rp425,50 miliar mencakup paket pertama tanah, bangunan, sarana pelengkap produksi barang. 

Paket kedua, kendaraan dan alat berat nilai limit Rp5,34 miliar. Berikutnya, paket mencakup mesin produksi dengan nilai limit sebesar Rp207,96 miliar, lot ke-4 yakni stok barang jadi dengan limit sebesar Rp57,91 miliar. 

Paket ke-5 adalah peralatan, stok barang setengah jadi, stok bahan baku, inventaris, stok bahan pembungkus, stok bahan pembantu sebesar Rp17,09 miliar dan terakhir paket ke-6 mencakup material seperti besi, pipa babet, kabel tembaga, indoor AC, outdoor AC, dan terpal mencapai Rp45,49 miliar. 

Acep meminta supaya pihak mana saja yang tertarik membeli aset FNG supaya mengikuti prosedur lelang yang akan diumumkan pelaksanaannya oleh Kantor Pelayanan Negara dan Lelang (KPKNL) Jakarta IV. (Bisnis Indonesia)

Baca: Usaha Batubara Milik Wakil Bupati Wajo Pailit

Tinggalkan Balasan