Bobby Manalu

Bobby Manalu

Yanuarius Viodeogo

Perkara Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan Kepailitan pada 2020 ini diprediksi bakal mengalami peningkatan atas dampak Covid-19.

Pandemi itu membuat bisnis di berbagai sektor kian terpukul karena market atau pasar dalam waktu singkat mendadak lenyap.

Beleid batas wilayah sampai penutupan operasional angkutan umum, dari pesawat terbang hingga kereta api, dari bus hingga kapal, bertujuan untuk mempersempit sebaran gerak virus Covid-19, praktis membuat daya beli masyarakat turun. 

Saya berbincang dengan praktisi hukum PKPU dan Kepailitan dari kantor hukum Siregar Setiawan Manalu Partnership (SSMP) atas situasi yang terjadi saat ini.

Dia berpandangan apabila kondisi sekarang tidak cepat segera diatasi oleh berbagai pihak maka grafik perkara PKPU dan Kepailitan bisa melompat tinggi.

Saya mengolah data perkara PKPU dan Kepailitan dari 5 pengadilan niaga di Indonesia mulai dari Medan, Jakarta Pusat, Semarang, Surabaya dan Makassar. Data itu saya perlihatkan kepada Bobby Manalu.

Pada periode 2019, perkara PKPU yang masuk di Pengadilan Niaga Medan sebanyak 28 perkara, Jakarta 258 perkara, Semarang 30 perkara, Surabaya 74 perkara dan Makassar 7 perkara. Total ada sebanyak 397 perkara yang masuk dalam permohonan di lima pengadilan niaga tersebut. 

Adapun untuk perkara kepailitan, di Medan sebanyak 7 perkara, Jakarta 92 perkara, Semarang 22 perkara, Surabaya 30 perkara, Makassar 2 perkara. Keseluruhan sebanyak 153 perkara. 

Sementara itu, periode Januari-April 2020, perkara PKPU masuk ke Pengadilan Niaga Medan mencapai 11 perkara, Jakarta 97 perkara, Semarang 4 perkara, Surabaya 25 perkara, Makassar tidak ada. Total mencapai 137 perkara. 

Kepailitan di Medan sebanyak 2 perkara, Jakarta 14 perkara, Semarang 16 perkara, Surabaya 3 perkara dan Makassar 2 perkara. Sebanyak 37 perkara masuk dalam permohonan kepailitan.

Berikut petikan wawancara dengan advokat lulusan Universitas Gajah Mada ini.

Apa ada potensi permohonan PKPU dan Kepailitan pada tahun ini mengalami peningkatan akibat Covid-19?
Menurutku angka PKPU dan pailit mempunyai kecenderungan naik tahun ini. Pandemi ini menyebabkan perusahaan kepayahan likuiditas karena sebagian besar pasarnya hilang. Memang ada beberapa sektor tumbuh tetapi kecil angka saja.

Kapan trend itu akan naik?
Sampai April saja, jumlah perkara tahun ini [2020] sudah sama dengan tahun lalu, alias tetap tinggi. Tren naik ini memang sudah terjadi 5 tahun belakangan dan rasanya tahun ini mungkin nanti di kuartal 3 dan kuartal 4 akan melompat kenaikannya.

Dari aspek perbankan apa Non Performing Loan (NPL) naik karena Covid-19?
Kalau ini pasti, soalnya pasar tiba-tiba hilang, mau direlaksasi bagaimana juga tetap saja utangnya masih eksis-kan. Sementara, potensi pemasukannya tidak ada. Kalaupun ada, turun jauh sekali, antara pemasukan yang dapat dengan biaya operasional sudah tidak seimbang.

Saya melihat sudah ada perusahaan minyak dan gas yang mengajukan perlindungan hukum seperti di Amerika Serikat karena Covid-19. Bagaimana di Indonesia? 
Pasti, ini menunggu waktu saja, semua industri akan terkena dampak lebih serius. Law Firm saja sudah mulai banyak yang efisiensi dari pemotongan gaji dan lain-lain.

Kantor hukum anda memaparkan dalam newsletter bahwa akibat situasi Covid-19 sebagai situasi force majeure, artinya debitur tidak diwajibkan untuk mengganti kerugian?
Secara praktik bahwa pengadilan memiliki keseragaman pemahaman dengan pasal 1245 KUH Perdata dalam hal memang terbukti force majeure yang berdampak tidak terpenuhinya prestasi debitur. Hal itu diatur dalam putusan MA RI No. 15 K/SIP/1957 tertanggal 16 Desember 1957, MA RI No. 409K/SIP/1983 tertanggal 25 Oktober 1984, Putusan MA RI No. 3389K/PDT/1984 tertanggal 27 Maret 1986. Kondisi force majeure biasanya memang disepakati oleh kreditur dan debitur dalam perjanjian dan dituangkan dalam sebuah klausul.

Catatan kaki: Kriteria force majeure dalam putusan Mahkamah Agung RI mencakup risiko perang, act of god, kecelakaan di laut, keadaan darudat, situasi tidak dapat terduga. (Sumber: SSMP)

Tinggalkan Balasan