Sempat Dililit Utang Rp700-an Miliar, Wim Cycle Lolos PKPU


wim cycle lolos PKPU

Yanuarius Viodeogo

JAKARTAIndustri sepeda tanah air terguncang pada awal 2019, salah satu produsen sepeda terjerat utang dan berada dalam masa Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Surabaya.

Perusahaan bernama PT Wijaya Indonesia Makmur Bicycle Industries yang memproduksi sepeda Wim Cycle mesti rela mengalami proses PKPU.

Sebagian dari kita tahu, merek itu sudah lama dikenal masyarakat Indonesia. Sebuah merek sepeda yang ikonik untuk pengguna segala umur.

Restrukturisasi utang via pengadilan yang dialami Wijaya Indonesia Makmur Bicycle Industries bermula ketika produsen asal Kota Surabaya itu memohonkan dirinya secara sukarela di PN Niaga Surabaya.

Wijaya Indonesia Makmur Bicycle terdaftar dalam perkara No. 47/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Niaga Sby, pada 23 November 2018 dan diputuskan PKPU oleh pengadilan pada 6 Desember 2018.

Majelis hakim memutuskan perusahaan terbukti memiliki utang sebanyak Rp504,03 miliar dan harus menjalani restrukturisasi utang. Saat proses verifikasi utang PKPU tetap, Wim Cycle mempunyai tagihan utang sebanyak Rp700-an miliar.

Utang-utang itu berada di 3 bank, 3 lembaga pembiayaan dan gaji kepada karyawan dan pesangon kepada para pekerja yang dirumahkan perusahaan.

Lika-liku Wim Cycle lolos PKPU begitu terjal. Rapat kreditur berlangsung dengan panjang di Surabaya. Terjadi tarik ulur pihak yang ingin menjadi investor Wim Cycle.

Seperti muncul produsen sepeda pencipta merek Polygon Bikes yaitu PT Insera Sena. Titik terang menghampir Wijaya Indonesia Makmur.

Alih-alih bakal menjadi penyelamat Wim Cycle, tetapi Insera Sena mengundurkan diri sehingga otomatis batal menjadi investor. Perjalanan masa PKPU kemudian menjadi lebih panjang. Bagi para kreditur, seperti diutarakan oleh pengurus PKPU Rifwaldi Rivai M. Noer tidak ingin Wim Cycle berakhir dengan kegagalan PKPU.

Baca: Nestapa First National Glassware Pailit

Mereka bersama-sama dengan pengurus mencari jalan keluar untuk menyelamatkan Wim Cycle lolos PKPU.

Proses restrukturisasi berlangsung lama, bahkan hampir mendekati hari-hari terakhir batas PKPU yakni selama 270 hari. Ketika itu, mayoritas kreditur setuju dan hanya satu kreditur separatis memilih abstain.

Menurutnya, para kreditur terutama separatis seperti bank tidak ingin debitur berakhir dengan nasib buruk.

HOMOLOGASI PERDAMAIAN.
Angin segar menghampiri Wim Cycle lolos PKPU. Perusahaan bakal  lepas dari belenggu restrukturisasi utang via pengadilan karena hadir perusahaan dari Hongkong yaitu Scorpion Enterprise yang berkenan membayar utang-utang Wijaya Indonesia Makmur kepada para kreditur.

Rivai mengutarakan investor tidak ingin Wim Cycle gulung tikar. Alasannya, kata dia, Wim Cycle memiliki nama yang bagus dan masih mempunyai pasar pembeli sepeda yang setia.

Dalam agenda rapat kreditur pada 29 Agustus 2019, mayoritas kreditur setuju dengan proposal perdamaian yang ditawarkan oleh Wijaya Indonesia Makmur Bicycle dan pada 9 September 2019, Pengadilan Niaga Surayabaya mengesahkan homologasi perdamaian perkara PKPU No. 47/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Niaga Sby tersebut.

PERMINTAAN SCORPION
Berakhirnya PKPU Wim Cycle tidak serta merta berlangsung dengan mudah begitu saja. Berbagai syarat mesti dipenuhi oleh Wijaya Indonesia Makmur Bicycle.

Founder and Managing Partner RIZ Consulting Group Zulfikar Lukman mengatakan, ada tiga penyelesaian pembayaran utang kepada kreditur Wijaya Indonesia Makmur.

Pertama, dia menyebutkan, di dalam proposal perdamaian, selaku debitur menawarkan kepada PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk untuk bekerjasama dengan developer atau pengembang terkenal tanah air dalam mengembangkan objek jaminan menjadi proyek pergudangan yang akan menjadi sumber pembayaran utang BNI selama 3 tahun dan lunas.

Kedua, kreditur separatis lainnya seperti PT Bank HSCB Indonesia dan PT Bank ICBC Indonesia menggunakan skema settlement dengan hair cut atau diskon melalui penjualan jaminan dalam waktu selama 6 bulan, lunas.

Keempat paling penting, imbuhnya, adalah untuk penyelesaian kepada kreditur konkuren diselesaikan dengan menggandeng investor baru yaitu vendor utama karena memiliki utang terbesar dalam hal ini adalah Scorpion.

“Scorpion masuk melalui medium convertible bond [MCB] dengan jangka waktu 3 tahun. Penyelesaian utang kepada kreditur konkuren akan diselesaikan dalam waktu 5 tahun dengan mengutamakan kreditur konkuren yang memiliki utang yang kecil,” ucapnya.

MCB merupakan jenis obligasi yang dikonversikan menjadi saham dari pemilik penerbit obligasi. Namun demikian, Zulfikar Lukman mengatakan, Scorpion Enterprise nanti setelah 3 tahun memberikan opsi masih untuk mengkonversinya menjadi saham MCB itu atau tidak. Bahkan, tidak perlu menjadi pemegang saham mayoritas selamanya.

Namun demikian, kata Zulfikar, Scorpion Enterprise berharap pemerintah Indonesia serius membenahi industri sepeda di Indonesia terutama memperketat kehadiran produk-produk gelap atau black market yang bisa mematikan bisnis sepeda buatan dalam negeri.

“Wijaya Indonesia Makmur ingin pemerintah mengatasi black market ini dengan memperketat SNI (Standar Nasional Indonesia) sehingga kejayaan Wim Cycle dan industri sepeda Tanah Air jaya lagi,” kata dia. (Bisnis Indonesia).

Tinggalkan Balasan