Restoran Indonesia, Paris: ‘Melawan’ dengan kuliner khas Tanah Air

  • Post author:
  • Post category:Ragam
  • Post comments:0 Comments
r.i

Yanuarius Viodeogo

Pada tahun 1965 menjadi peristiwa buruk dan selepas 30 September adalah awal mula rangkaian momentum paling mengerikan bagi bangsa Indonesia. Kekejian di bawah komando Soeharto, dia menghabisi organisasi yang dianggap kiri atau komunis. 

Kekejaman lain adalah menjatuhkan pemerintahan Soekarno beserta orang-orang terdekatnya. Imbasnya, para intelektual muda yang dikirim ke luar negeri oleh Soekarno untuk belajar, terpaksa tidak bisa pulang ke tanah air karena nyawa berada dibidik pucuk senapan. 

Para pelajar, seniman, jurnalis dan lainnya yang belajar di negeri barat terutama di Eropa timur tidak dapat kembali ke Indonesia, hingga akhirnya mendirikan restoran indonesia (r.i) di Paris supaya tetap bertahan hidup di antara kegelisahan yang ada dipikiran mereka, serta memberikan sebuah ruang bagi para imigran terutama yang senasib dengan mereka -mereka kemudian disebut Eksil.

Maka tak aneh bila spirit yang berada dibalik pembangunan restoran tersebut bukan ditujukan untuk bisnis semata, melainkan sebuah simbol solidaritas antar eksil.

Restoran Indonesia yang didirikan tanggal 14 Desember 1982 oleh Umar Said, Sobron Aidit, Budiman Soedarsono dan Kusni Sulang, direkam kembali oleh kotakhitam forum, sebuah komunitas visual- kreatif yang berlokasi di Yogyakarta.

Film dokumenterberdurasi 30 menit, berjudul r.i. ini menceritakan kembali memori para pendiri  restoran Indonesia serta eksil yang dulu mengenyam pendidikan di beberapa negara di Eropa namun tak bisa kembali ke Indonesia. Mereka juga telah menjadi warga negara tempat mereka menetap. Film r.i. memberikan beberapa tampilan nuansa Eropa dalam setiap sekuennya, karena langsung merekam beberapa kota di Paris, dan Belanda sehingga seolah-olah kita pun bisa diajak travel di kota itu.

Sutradara r.i. –Andrew Dananjaya meramu film dari awal hingga akhir agar tetap enak ditonton.

Bermula dari mata kamera menampilkan kota paris dan simbol kebanggaan masyarakatnya yaitu menara Eiffel, Umar Said, eks Pimred Harian Ekonomi Nasional tahun 60-an hingga dibredel oleh Soeharto  membuka pengawal testimoni.

Sebagai salah satu dari pendiri restoran Indonesia itu berkisah, mulai dari kehidupannya di Indonesia sebagai Bendahara KIAPMA – Konferensi Anti Militer Asing diampu oleh Bung Karno kala itu hingga sampailah pada Umar Said bercerita didirikan restoran Indonesia atas rasa senasib karena tidak memiliki pekerjaan akibat KBRI di negara mereka berada, mencabut ijin pasport mereka secara sepihak.

Umar Said menuturkan, restoran Indonesia diciptakan dengan semangat gotong royong berciri khas lembaga koperasi. Semangat serta komitmen yang dipegang teguh oleh Pak Ayik (sebutan akrab Umar Said) dkk, sebagai orang yang berjasa memperjuangkan hak para korban kekerasan orde baru, mendapat perhatian luar biasa oleh pemerintah setempat.

Pada ulang tahun restoran Indonesia yang ke 28 pada 24 januari 2011 yang lalu, dirinya mendapatkan penghargaan Medali Kota Paris. Hadir juga pada acara tersebut, madame Danielle Mitterand istri dari mantan perdana menteri Perancis, yang turut memberikan sambutan selamat atas kerja keras r.i selama ini. 

Film r.i. diproduksi oleh kotakhitam tahun 2011. Film dengan sampul kartunis tampilannya merepresantasikan seseorang yang belajar di luar negeri mengalami teror bertahun-tahun lamanya oleh orang-orang tak dikenal.

Film r.i merupakan film dokumenter kedua kotakhitam sebelumnya berjudul Yang Bertanah Air Tak Bertanah –berkisah tentang kehidupan para pelaku-pelaku seni Lekra yang harus dibekukan keorganisasiannya oleh Orde Baru karena dianggap PKI.

Pluralisme di Restoran
Para awak restoran indonesia menilai bahwa restoran indonesia dibangun atas citarasa Indonesia yang tinggi. Seperti Soejoso –alumni  University of Patris Lumumba, Moscow, yang kini bekerja sebagai manager Restoran Indonesia, mengatakan bahwa restoran indonesia ada karena didirikan menggunakan prinsip Capital Nol, artinya berangkat karena utang kiri kanan, keterampilan mengelola restoran pun tak punya. Wajar saja karena tidak satupun dari para intelektual muda, seniman maupun jurnalis tersebut punya pengalaman di bidang kuliner.

Berbeda dengan pengalaman F. Cisca Fanggidaej. Sebelum diajak membuka memori menapak tilas kejinya Soeharto, sutradara membidik sudut-sudut kota Utrech, Belanda. Nuansa Eropa begitu kental, tersaji dengan alunan lagu genjer-genjer berirama balada menggunakan sentuhan irama musik Eropa.

Mantan seorang wartawati yang tinggal di jalan Kruisstraat itu, merantau meninggalkan Indonesia ditugaskan untuk mewakili Indonesia dalam konferensi wartawan internasional di Chili 2 hari sebelum peristiwa kelam G 30 S.

Dengan heroik ia lugas mengatakan, restoran Indonesia sebagai bukti kerinduaan Eksil kepada tanah airnya. Panggilan tanah tetap berada di lubuk hati para eksil, tapi seperti dirinya bukan utama kembali ke Indonesia tetapi memberikan yang terbaik bagi Indonesia. 

Eksil lain seperi Ibrahim Isa –penulis, Suranto dan Istrinya Widjiarti seorang dokter memiliki pengalaman pahit selama tidak bisa kembali ke Indonesia. Mereka mengungkapkan di satu sisi berada di luar negeri memberikan kehidupan berbeda walaupun bersama budaya yang berbeda tapi di sisi lain seperti Ibu Widjiarti yang harus kehilangan ayahnya karena dibunuh oleh militer.

“Bapak saya dicari, mengapa anaknya diuni soviet berarti komunis, jam tangan bapak dikirim, ditanya oleh ibu di mana bapak, bapak sudah tidak ada,” ucap Widjiarti.

Tapi kekecewaan mereka akibat dilukai oleh Soeharto tak mengurangi rasa cinta mereka terhadap Indonesia. Maka dengan restoran indonesia, para awaknya menancapkan sikap perlawanan terhadap pemerintah kala itu, tetapi tetap mencintai Indonesia.

Seorang Arif Budiman, sejak menjadi aktivis mahasiswa yang anti terhadap Soekarno, juga berseberangan dengan garis kiri sewaktu hampir lengsernya Soekarno, terang-terangan memuji kehadiran restoran Indonesia sebagai pemersatu pluralisme.

Arif sama sekali tidak apatis dengan restoran indonesia, ia merasakan sendiri restoran itu begitu ramah kepada setiap orang, tidak seperti ditunjukkan KBRI di Perancis waktu itu yang mengatakan makanan di restoran indonesia adalah makanan PKI.

Penasehat PM Prancis
Restoran Indonesia sebelum Soeharto runtuh, terus menerus menjadi bulan-bulanan KBRI seantero Eropa, terutama di Paris. Orang-orang di KBRI Paris melarang pelajar-pelajar Indonesia untuk mencicipi gado-gado, nasi goreng, lumpia, dan sayur lodeh di sana karena restoran indonesia dicap sarang komunis, makanan-makanannya PKI.

Tapi pada kenyataannya bertahun-tahun lamanya pula, restoran indonesia dikunjungi oleh berbagai orang dari berbagai suku, agama, ras, warna kulit, latar belakang pendidikan, hingga pejabat tinggi negara, mau duduk bersama di jamuan meja makan di restoran ini. Justru, kengerian berada di restoran itu diciptakan oleh orang-orang KBRI tidak sama sekali muncul.

Di restoran indonesia segala macam informasi tentang Indonesia tersaji, bahkan tak jarang para pengunjung menyebutkan bahwa restoran indonesia juga berperan penting sebagai duta budaya Indonesia.

“Pusat informasi indonesia ada di r.i memperkenalkan Indonesia lebih dari peran kedutaan Indonesia di Paris,” kata Budhisatwati, seorang juru masak di restoran indonesia. 

Penasehat PM Perancis 5 kali berturut-turut –Louis Joinet sahabat r.i. Almarhum Gus Dur sebelum menjabat hingga menjadi Presiden selalu mengunjungi restoran ini. Restoran yang terletak di jalan Vaugirard Paris, jalan prestisius di Paris, selalu mendapat apresiasi tinggi oleh masyarakat di sana. “Yang penting adalah semangat pengabdian tanah air Indonesia oleh sebab itu, namanya restoran indonesia,” ucap Umar Said.

Film r.i menampilkan koleksi-koleksi foto lama para narasumber. Sudut-sudut rumah nara sumber menjadi frame membuang rasa bosan dari film itu sendiri. Bahkan sutradara mengajak penonton berjalan bersama Budhisatwati di taman pada umumnya taman di Eropa dengan rindangnya pohon, hilir mudik manusia dan burung merpati.

Akhir film sutradara membungkusnya dengan arransemen ulang lagu gendjer-gendjer bernuansa klasik. Sebuah alternatif film dokumenter bertema sejarah yang patut ditonton. 

Tinggalkan Balasan