Produsen Pakaian, Selaras Kausa Busana Pailit

Yanuarius Viodeogo

JAKARTA — PT Selaras Kausa Busana pailit setelah produsen garmen itu gagal melalui proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang via pengadilan.

Masa PKPU SKB bermula saat PT Vicky Expressindo mengajukan permohonan PKPU terhadap SKB ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dengan perkara No. 30/Pdt.Sus-PKPU/2019/PN Niaga Jkt.Pst pada 8 Februari 2019. Vicky Expressindo menagih utang senilai lebih dari Rp1 miliar yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih.

Setelah mengajukan permohonan PKPU dan diterima oleh pengadilan, selanjutnya majelis hakim menjalankan agenda-agenda persidangan hingga pada putusan bahwa SKB terbukti memiliki utang sehingga harus direstrukturisasi utang secara sementara. 

Kuasa hukum Selaras Kuasa Busana Anggi Putra Kusuma keberatan dengan putusan dari pengadilan karena kliennya bersikap baik masih mau membayar utang kepada kreditur.

Kondisi keuangan perusahaan yang terbelilit utang, tak ayal membuat perusahaan tidak saja kesulitan membayar utang kepada para vendor-vendornya tetapi kepada karyawan sebanyak 4.000 orang. Kurang lebih hampir Rp12 miliar total untuk gaji para karyawan belum dibayarkan SKB kurun 3-4 bulan sebelum diajukan PKPU.

Dalam proses PKPU Sementara, SKB diberikan kesempatan untuk mengajukan proposal perdamaian. Hingga waktu jelang pemungutan suara pada 30 April 2019, SKB tetap tidak menyodorkan proposal keringanan kepada pengurus.

Pengurus yang diangkat majelis hakim untuk melaksanakan PKPU SKB adalah Sexio Yuni Noor Sidwi, Alberto Siregar, dan Peber E. W. Silalahi.

Sexio mengatakan debitur sudah diberikan kesempatan tambahan waktu 14 hari tetapi selain tidak memberikan proposal perdamaian, mereka juga tidak hadir dalam agenda pemungutan suara.

Agenda penetapan dilaksanakan, sebanyak 3 kreditur konkuren mau memberikan kesempatan kepada SKB untuk menjalani PKPU tetap tetapi kreditur lain yakni dari kreditur separatis dan kreditur konkuren lainnya menolak berdamai. Sehingga syarat 2/3 tagihan konkuren tidak terpenuhi dan berujung pada pailit.

Saat verifikasi utang, tagihan perusaan dengan sebagian direksi dari Korea Selatan itu mencapai Rp123,36 miliar tersebar di kreditur separatis, konkuren dan preferen. Pemilik tagihan piutang separatis adalah KEB Hana Indonesia sebanyak Rp20,36 miliar.

Tagihan piutang konkuren sebanyak 14 kreditur mencapai Rp15,57 miliar. Para kreditur konkuren tersebut adalah Yuliana Situmorang, PT Wings Global Logistics, PT Sahassa Prima Niaga, Jong UK Lee, PT Dongju Raya Indonesia, PT Tae Jong Indonesia, PT Obor Setia Indah.

Selanjutnya kreditur konkuren lain adalah PT Vicky Expressindo, Jean Paiaman Manurung, PT Bosung Indonesia, PT Gaya Makmur Indonesia, Jauhari, A Freddy H. Manurung dan Sri Rahayu.

Sementara itu, preferen ada 4 kreditur dengan tagihan mencapai Rp87,42 miliar berasa daridari kantor pajak, Serikat Pekerja Nasional Kota Bekasi dan Lima Belas Buruh Non Serikat.

Majelis hakim membacakan secara resmi keputusan Selaras Kausa Busana pailit pada 6 Mei 2020 lalu.

Setelah dinyatakan pailit, pengurus PKPU diangkat kembali oleh majelis hakim menjadi kurator SKB. Tugas dari kurator adalah menyusuri aset-aset SKB dan menjualnya untuk dibayarkan kepada para kreditur.

Dari penelusuran kurator, aset SKB mencakup tanah seluas 6.000 meter persegi di Bojong Menteng dan sertifikat senilai RP67,63 miliar. Bangunan mencakup pos jaga, custom bea cukai, pabrik, kantin, gudang kimia, rumah genset, rumah boiler, gudang arsip, gudang pencucian, kantor administrasi, laboratorium, kess karyawan, gudang bahan baku, gudang kecil, dan pos administrasi buruh mencapai Rp7,42 miliar. 

Baca: Duniatex Bikin Masker

Terdapat apartemen di Cilandak, bahan baku asesoris dan pakai baju senilai Rp3,18 miliar seluas 150 meter. Sexio mengatakan aset-aset itu telah dilelang tetapi belum terjual hingga hari ini, Selasa (21/4/2020).

Pihaknya melakukan lagi lelang untuk kedua kali dan memasukkan aset baru untuk lelang pertama yakni bahan baku, scrab dan sebagainya masuk dalam tahap lelang pertama.

“Itu lelang kedua pada 5 Maret 2020. Padahal sudah batas harga bawah dari nilai pasar langsung dengan harga likuidasi. Nilai likuidasi adalah harga pasaran yang telah didiskon,” kata Sexio. (Bisnis Indonesia)

Tinggalkan Balasan