Perayaan 1 Abad Paroki Martinus: Kisah Bule Holland Bangun Gereja Martinus

  • Post author:
  • Post category:Ragam
  • Post comments:0 Comments

Misionaris bersama masyarakat saat pelayanan umat. Foto: Koleksi dari Cosmas Yan Kay.

Yanuarius Viodeogo

PONTIANAK – Kehadiran misionaris asal Belanda di Kecamatan Embaloh Hulu, 1 abad lalu menjadi catatan sejarah penting dalam perkembangan agama Katolik di Kalimantan Barat. Usai Perang Dunia I dan II, biarawan-biarawati menanamkan jiwa pendidikan dan kesehatan di suku Banuaka. Bagaimana jejak mereka? 

Kamis pagi, Rafael Sallan (77), beralamat di Gg Rambai, Jeruju, Pontianak, bercerita saat Monsignur (Mgr) Tarcicius van Valenberg dan Superior Caesarius Ram melakukan turne (pelayanan umat) ke Banua Martinus. Bersama mereka, lima orang tukang pikul barang dan seorang juru masak.

Merasa lelah, sejenak istirahat di tepi sungai yang jernih dan segar. Air sungai itu boleh diminum, karena belum tercemar.

Mandi pun tak boleh dilewatkan. Lainnya merokok tembakau cap Shag van Nelle, atau rokok si Janda. Van Nelle berarti janda. Para bule-bule itu pun mandi di air sungai yang surut dengan memakai lilit kain (handuk atau cawat).

Asyik mandi, bapa uskup dan superior tidak sadar, (maaf) cawatnya hanyut dibawa air sungai yang deras. Para rombongan pun terkejut melihat mereka yang punya badan kekar-kekar besar, tak mengenakan satu helai benang pun.

Cerita di atas menjadi memori tak terlupakan bagi masyarakat Paroki Martinus, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, bersama para misionaris yang menyebarkan agama Katolik.

Satu abad lalu, tepat 2 Agustus 1913, merupakan hari ikrar para ordo Kapusin di stasi Embaloh Hulu. Kemudian resmi dikukuhkan sebagai pusat Paroki Martinus. Pastor Flavianus Huibers, OFM. Cap sebagai pastor pertama, dibantu oleh Pastor Honoratus, OFM. Cap dari Belanda.

Orang Embaloh Hulu, seperti Sallan, mengagumi kegigihan para misionaris yang masuk ke Embaloh Hulu. Hubungan akrab antara para biarawan dengan masyarakat Embaloh tidak terjadi begitu saja. Biarawan pun tidak menggunakan senjata dan kekerasan merangkul masyarakat.

Sebelum tahun 1889, berdasarkan tulisan Pastor Yeremias Melis, OFM. Cap dalam dokumen berjudul ‘Borneo Kalbar’, Pemerintah Hindia Belanda memandang perlunya peran Gereja di daerah perhuluan. Karena masih sering terjadi konflik horizontal antar suku.

Para kompeni Hindia Belanda, menyadari bahwa tidak ada gunanya mereka berpatroli terus menerus, caranya adalah memulai karya di suku Iban, Batang Lupar, Lanjak.

Di tahun 1889 Mgr. Claessens, SJ, Vikaris Apostolik Batavia, minta izin agar diperbolehkan membuka misi di daerah Kapuas Hulu dan Bengkayang. Terjadi beda pandangan. Tahun 1908, Tuan Kontrolir di Semitau meminta misi membuka stasi di Batang Lupar di kaki bukit Lanjak.

Maka dibukalah pada tahun 1909 stasi Lanjak dengan misionaris pertama, Pastor Gonsalvus, OFM. Cap dan Pastor  Ignatius, OFM. Cap. Sayang, sekolah di Lanjak tidak dapat dilanjutkan karena anak-anak kurang berminat minat sekolah.

Di tahun 1909 para Misionaris Kapusin mulai melirik Embaloh, dan mencari anak-anak dari suku Dayak Embaloh untuk bersekolah di Lanjak. Suku Dayak Embaloh bahkan Temenggung Nandung bin Kasue (1904-1919), menyambut baik, dan meminta agar dibangun gereja dan sekolah di Embaloh.

5 Oktober 1910 Prefek Pacifikus Bos, OFM. Cap mengemukakan keinginan pindah, dari Lanjak dan membuka stasi, gereja dan sekolah di Embaloh. Keputusan harus melalui ‘koombong’ (musyawarah adat).

“Keputusan akhir diambil dari pendapat terbanyak kaum tua adat. Suatu kehidupan demokrasi yang demokratis,” kata Rafael Sallan. Misionaris tertarik di Embaloh karena hidup tertib masyarakat adat. 

Alasan lain, karena pendidikan sekolah di Lanjak kurang berkembang. Masyarakat berpegang pada adat, sehingga anak-anak seringkali tidak masuk sekolah, alasannya karena pantang. 

Atas keputusan beberapa orang tua adat, mereka menemui pastor di Lanjak dan menyampaikan persetujuan masyarakat adat Embaloh memberikan Banua Banyu’ (sebelum menjadi nama Martinus) untuk keperluan pastor. 

Mereka menjemput para pastor ke Lanjak. Pemilihan nama “Banua Martinus” karena berada di antara Banua Karaam dan Banua Ujung (Banuajung). 

Sedangkan Martinus dari nama seorang pengusaha Belanda, Martinus, yang memberikan 5.000 Gulden, masa itu untuk membangun gereja, pastoran, dan asrama. 

Lalu, 9 November 1913 dibuka Sekolah Rakyat (Volkschool) SR setara SD, 3 tahun, yang merupakan subsidi dari Pemerintah Hindia Belanda. Bagi yang ingin melanjutkan sekolah ke kelas 4-6 SR, harus bersekolah di Kecamatan Sejiram. 

Mulai dari situ, Paroki Santo Martinus dibangun secara besar-besaran. Ordo Sarikat Maria Montfortan (SMM) diminta membantu sekolah di Martinus. 

Pada 19 Desember 1941 Kota Pontianak dibom dan ditembaki dari udara oleh tentara Jepang. Pulau Borneo diduduki tentara Nippon. Para misionaris ditangkap. 

Termasuk para misionaris, Jam 11.00 dibawa pergi, dimasukkan ke kamp di Kuching, dan Raphael Giling Laut, kelak Bupati pertama Kapuas Hulu, menjaga pastoran agar tidak dijarah tentara Jepang.

Tapi itu, tak berlangsung lama, 17 Agustus 1945 pesawat-pesawat Sukutu melewati kamp di Kuching menyebarkan pamflet berisi Jepang menyerah. 

Para pastor yang ditawan pun kembali ke Banua Martinus, seperti Pastor Flavianus, Pastor Lambertus Van Kessel, Br. Bertrandus, Br. Alexius, Sr. Koleta, Sr. Theresa, Sr. Gerarda, Sr. Rosa dan Sr. Dolorota, dijemput Temenggung Laetus Kasso di Nanga Embaloh menggunakan sampan. 

Mendengar para pastor kembali, umat Katolik Embaloh diperintahkan oleh Temenggung Kassoh menjemput di Nanga Embaloh dengan mengayuh sampan. 

“Kami menebas rumput pastoran. Asrama kami tingkat dua, tepat di depan lapangan sepak bola. Lapangannya luas, hijau dan bersih,” kenang Sallan waktu itu kelas 1 SR.

Lain lagi dengan sembahyang di gereja. Kalau sudah misa, gereja beratap dan berdinding kulit kayu itu, pasti penuh. Hampir 300 orang datang dari berbagai kampung. 

Gedung paroki dan persekolahan dan pemakaman Katolik sudah 3 kali pindah, karena longsor, dibakar, dan longsor lagi. Gedung gereja yang sekarang adalah yang ke empat sekitar 900-1.000 meter di tanah seberang. 

“Sekarang pun pastoran dan gereja sudah mulai terancam longsor. Arus sungai begitu kuat. Jembatan besi dan kayu yang panjangnya 25 meter hanyut terkena banjir,” katanya. 

Dia mengenang, seorang biarawan bernaman Bruder Bertrand. Satu-satunya bruder yang eksentrik. Pemilik kuda dibawa langsung dari Belanda, digunakan untuk turne dan membangun jembatan. “Bruder ini mengusir buaya-buaya di sungai,” ingat Sallan.

Sallan masih ingat memori ia dan kawan satu kelas dibimbing Pastor Flavianus. Naik ke kelas 3, umur, pastor Flavianus semakin tua, dan pastor itu pulang ke negeri Belanda. Sebagai pendiri Paroki Martinus, Pastor Flavianus meninggal 2 April 1971 di usia 89 tahun. 

Sallan masih ingat sekali juga, kawan-kawannya di SR. “Tahun 1946, kelas 3, terdapat 2 orang saja, Vincensius Toman dan Jalui. Kelas 2, Taon Nambun, B. Insek, Herman Insombin, Arwis. Kelas 1, Mayam (kampung Bukung), R. Sallan, Thomas Botom, N. Utto, Banya (Kampung Benua Ujung), Paget dan Anis, Takolang (Kampung Temao), Babet, L. Igang, Sanung, Thomas Antot, Tayot (Kampung Pinjawan). 

“Saat itu, SR di Martinus baru sampai kelas 3. Lanjut ke kelas 4, saya pindah SR 6 tahun di Sejiram,” ujar mantan Camat Pontianak Selatan dan Dosen Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Pontianak ini. 

Cerita serupa juga keluar dari kata-kata, Yan Kay saat membuka memori Embaloh Hulu silam, masih hutan belantara dibelah arus sungai Embaloh yang deras. 

“Saya salut dengan orang Belanda itu, karena mereka mau tinggal di Embaloh,” kenang Yan Kay, seorang aktivis pembela Hak Asasi Manusia (HAM) sehari-hari bergelut di Komisi HAM Keuskupan Agung Pontianak itu. 

Dia duduk di kelas 1 SR setara Sekolah Dasar sekarang, tahun 1956. Umurnya 8 tahun, pulang sekolah menemani Pastor Schellart, saban sore hari mencangkul membuat jalan setapak dari Martinus ke Karaam. Paling seram, kenangnya, membersihkan kuburan.

Rutinitas itu terus berlangsung, para pastor dan bruder-bruder membuat parit. “Saya setelah masak nasi untuk anak-anak asrama makan malam, ikut membantu orang-orang kampung dan pastor nebas rumput. Jam 5 selesai menebas kami singgah minum sirup yang diberikan pastor,” tuturnya. 

Di sekolah, misionaris-misionaris menerapkan disiplin tinggi tujuannya membentuk pribadi sederhana, tidak terlambat ke gereja dan sekolah. Paling utama adalah kejujuran. 

“Sekolah dulu tidak pakai pakaian seragam. Kalau pun seragam bekas. Pun ada yang pakai celana katok. Dulu belum ada buku tulis. Belajar pakai batu. Untuk menulis pakai batu diruncing. Batunya mudah sekali pecah,” kata Yan, yang sehari-hari aktif menulis kisah kerohanian ini. 

Pengalaman lucu saat menggunakan batu sebagai pengganti buku dan alat tulis. Pengajar di sekolah memberikan tugas rumah. “Saat itu mau berangkat sekolah hujan. Jadi apa yang ditulis di batu terhapus kena hujan,” katanya tertawa. 

Di kelas kalau mau cepat hapus dengan liur, atau dengan umbi-umbi dari bunga anggrek hitam. Baru memakai buku tulis, kenang Yan, saat ia pindah di Nyarumkop kelas 4. 

“Tulisan harus elok, miring harus berapa derajat. Kalau tidak sesuai miring dipukul tangan oleh pastor. Lalu berhitung kelas harus hapal kali-kalian. Zaman dulu dipukul tidak langgar HAM, beda sekarang,” kenangnya. 

Seiring perjalanan waktu, hubungan politik Indonesia dan Belanda memanas di tahun 1960an. Hal itu berdampak pada kelanjutan karya misionaris di Kalimantan Barat. 

Pergantian kekuasaan Republik Indonesia yang mengeluarkan berbagai kebijakan juga ditenggarai mulai mundurnya karya misi di Banua Martinus. 

Namun sayang, pendidikan dan kesehatan yang dibangun para misi selama berkarya 74 tahun di 1914-1988 meninggalkan tanah Embaloh dengan menyedihkan.

Kebijaksanaan pemerintah mulai di tahun 1988, yang membangun Puskesmas dan SD-SD Inpres di setiap kampung dan menggeser misi pendidikan para Menir-menir, yang dibangun puluhan tahun itu.

Tahun 1990 para suster SMFA dari Asten (Belanda) melayani kesehatan dan pendidikan terpaksa mengundurkan diri dari Banua Martinus. Daerah yang dulunya terkenal sebagai sentral kegiatan dan pertemuan umat dari seluruh kampung menjadi sepi seperti daerah tak bertuan. 

SD-SD Katolik yang dikelola Yayasan Sukma, asrama putra dan putri, rumah sakit atau poliklinik yang dikelola para suster semua ditutup. 

Misi telah mendirikan persekolahan, asrama putra-putri, poliklinik, balai kesehatan ibu dan anak, dan rumah sakit pembantu.

“Saya sedih sekarang dan kecewa. Dahulu Martinus pusat gereja, orang dari berbagai macam kampung Bika, Sejiram, Putussibau, dan kampung-kampung terdekat datang ke Martinus. Jadi setiap hari Minggu, kampung ramai. Orang sekalian berobat sama Beatus Libat, Kepala RS Pembantu Martinus,” tutur Yan menyebutkan saat itu mampu menampung 20 tempat tidur. 

Yan Kay merasakan di zaman sekolah di bawah misionaris tidak ditanggung biaya.

Tepat 2 Agustus 2013, berlangsung misa syukur 100 tahun Paroki Martinus. Misa yang dipimpin Uskup Sintang, Mgr. Agustinus Agus, mengenang kehadiran misionaris berkarya menyebar karakter pendidikan dan pelayanan kesehatan tanpa melihat latar belakang seseorang.

Iparaandam salaloona, itu artinya dikenang selamanya,” tutup Sallan. (Tribun Pontianak)

Tinggalkan Balasan