Menikmati Oksigen Alami Dari Kampung Sarongge

  • Post author:
  • Post category:Ragam
  • Post comments:0 Comments

Pendaki menuju Gunung Gede Pangrango. Foto: Yanuarius Viodeogo.

JAKARTA — Hampir 1 jam saya disuguhi pemandangan indah mendaki Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dari Kampung wisata Sarongge.

Udara sejuk dan segar menemani perjalanan saya di antara hilir mudik petani mengendarai pick up dan motor mengangkut hasil panen strowberi, cabe, tomat, kol, wortel dan kebun teh.

Di Saung Sarongge, seorang perempuan bernama Surinten sibuk melayani pembeli yang tertarik dengan sabun berbahan baku tanaman sereh hasil buatannya, Jumat sore (20/6/2014).

Satu persatu sabun yang dihargai Rp15.000 itu beralih pindah tangan sebagai buah tangan dari Kampung Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. 

Kepada saya, dia menceritakan aktivitas itu telah dilakoninya sejak April tahun lalu. Dari kelihaiannya membuat sabun dari tanaman untuk bumbu masakan itu, sekarang dia mempunyai penghasilan tambahan selain dari berkebun di lahan sekitar rumahnya. 

Kisah itu, menurutnya, jauh lebih baik sebelum bersama 150 warga Kampung Sarongge lainnya, harus kucing-kucingan menghindari kejaran petugas Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. 

Kekhawatiran menyelimuti warga di tahun 1980 hingga 1990-an. Mereka tidak tenang dan leluasa untuk menanam sayur-sayuran di bawah kaki gunung itu. 

Inten misalnya menanam wortel, kol, bawang daun dan sayuran lainnya di kawasan TNGGP. Selain berkebun, ada pula petani lainnya yang menebang pohon-pohon yang usianya di atas 100 tahun. 

Padahal PT Perhutani mengeluarkan peraturan melarang keras warga beraktivitas di lokasi bekas hutan produksi tersebut. Sayangnya, pemerintah Orde Baru kala itu hanya melarang tanpa memberikan alternatif pekerjaan bagi petani.

Angin segar muncul pasca reformasi. Pihak Kementerian Kehutanan melalui Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Jawa Barat melonggarkan peraturan yaitu memberikan insentif kepada petani membolehkan berkebun dan berternak dengan syarat hanya di bawah kaki gunung. 

Pendekatan dialogis dikedepankan. Intinya, Gunung Gede Pangrango harus dijaga kelestariannya. Jangankan menebang pohon, memetik bunga sedang mekar saja dan dibawa turun dikenakan sanksi hukuman dan denda.

Dampaknya kini dirasakan Inten dan warga Sarongge. Keberuntungan menaungi kehidupan mereka sejak pihak TNGGP membuka program adopsi pohon di wilayah tersebut.

Diprakasai oleh Yayasan Praksara Indonesia dan Green Radio bekerjasama dengan TNGGP, pada 2003 masyarakat Sarongge diajak kembali menanam pohon mengganti pohon yang ditebang beberapa tahun silam. Dengan catatan pohon juga harus dijaga dan tak boleh ditebang lagi.

Program adopsi pohon itu rehat memasuki tahun 2008 sampai sekarang. Terakhir adopsi pohon dilaksanakan pada 2013 saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi TNGG.

Dari adopsi pohon, saat ini jumlah pohon di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan contoh tempat pelestarian alam itu.

Setelah itu, program adopsi pohon diganti dengan memberdayakan kelompok dan individu warga kampung Sarongge. Areal 38 ha dalam TNGGP yang dulu dirambah sekarang kini sudah ditinggal petani dan memiliki 22.000 pohon. 

Perwakilan Yayasan Prakarsa Syarif Abdul Karim menuturkan masyarakat sudah tidak lagi menggantungkan pekerjaan dengan merambah hutan di TNGGP. Masyarakat Sarongge yang merambah hutan berjumlah 150 orang dulu kini memiliki alternatif penghasilan.

“Kami berharap Sarongge dijadikan desa wisata supaya masyarakat bisa mandiri. Pada September tahun ini bakal diselenggarakan untuk kedua kalinya festival Sarongge,” kata Syarif.

Manfaat dari adopsi pohon kini dirasakan penduduk sekitar TNGGP. Dari aspek hidrologis dan keanekaragaman hayati, masyarakat berlimpah sumber mata air.

Dari sisi pemberdayaan masyarakat selain menjadi petani kebun sekarang terdapat 45 orang memiliki ternak kelinci dengan usaha mandiri.

“Anggota peternak kelinci memiliki koperasi. Mereka bisa menukar sembako dengan menukar anakan kelinci. Dari ternak kelinci sekarang tumbuh 125 unit koperasi menengah (UKM).”

Kepala Seksi Pengelolaan TNGGP Wilayah II Aden Mahyara mengatakan tidak semua wilayah boleh dimanfaatkan oleh petani. Permenhut No P56/Menhut-II/2006 membagi TNGGP dalam zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, zona tradisional, zona rehabilitasi dan zona relifi.

“TNGGP yang mencakup tiga kabupaten yaitu Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Sukabumi itu berfungsi menyimpan dan melepaskan karbon dengan total luas wilayah mencapai 22.851.030 ha,” kata Aden.

Hutan yang boleh diproduksi merunut SK 1974 dan sebagai pendidikan serta penelitian. Berdasarkan Kementerian Kehutanan Nomor 174/Kpts-II 2003 diumumkan cagar cibodas biosphere seluas 114.779 ha dengan zona inti terdapat pohon-pohon premier khusus seluas 9.612.592 ha yang dilindungi keberadaannya oleh kawasan penyangga sebanyak 66 desa.

“Sasaran pengelolaan yaitu terjaganya keutuhan habitat dan eksosistem, kelestarian tumbuhan dan satwa, fungsi hidrologis dan lingkungan, manfaat jasa lingkungan seperti air, karbon, keanekaragaman hayati dan memberikan manfaat wisata.”

Dia memaparkan putaran uang dari Gunung Gede sangat tinggi. Dari sumber mata air dari Gunung Gede memiliki nilai ekonomi mencapai Rp12 triliun, serapan karbon mencapai Rp200 miliar dan dari sektor ekowisata mencapai Rp386 juta.

Pihak TNGGP, kata Aden, sesungguhnya berperan mengawasi supaya TNGGP tetap lestari supaya masyarakat perkotaan mendapatkan oksigen. “Kami juga memberikan perhatian memberdayakan ekonomi masyarakat.”

Pemberdayaan ekonomi itu contohnya Inten. Dalam sehari dia bisa menghasilkan 100 biji sabun sereh batangan.

Total pembuat sabun dari sereh di Kampung Sarongge mampu memproduksi 1.000 bungkus sabun. Hingga April 2014 ini sudah terjual 250 pcs sabung sereh batangan.

Kesuksesan pemberdayaan masyarakat lainnya sekarang ada 800 ekor kambing, 1.500 anakan kelinci dengan target 2.000 ekor tahun ini, 850 polybag strowbery oleh ibu-ibu dan budidaya jamur yang telah mencapai 6.000 log yang dilakukan masyarakat Kampung Wisata Sarongge sendiri. (Bisnis Indonesia)

Tinggalkan Balasan