Harga Lada Putih di Kalbar Anjlok

  • Post author:
  • Post category:Ragam
  • Post comments:0 Comments


petani lada putih

Yanuarius Viodeogo

Petani lada di Kalimantan Barat berharap kondisi harga lada putih tidak anjlok dan segera membaik agar tetap menjadi andalan mata pencaharian mereka.

Kori Adi, petani dari Kabupaten Bengkayang mengatakan harga lada putih terus merosot dari tahun ke tahun. Saat ini, menurutnya, sudah menyentuh angka Rp39.000 per Kilogram (Kg).

“Harga sekarang bertahan dari Rp38.000/Kg sampai Rp39.000/Kg, khusus lada putih. Lada hitam [harga] Rp19.000/Kg-Rp20.000/Kg. Dengan turun sekarang, petani ada yang mulai tidak mau tanam lada lagi,” ucap Kori kepada saya, Senin (27/4/2020).

Dia mengutarakan sempat mengalami masa kejayaan harga lada tertinggi pada 2015 dan 2016 yang mencapai harga Rp150.000/kg. Tetapi, harga terus menurun dan anjlok hingga di bawah Rp100.000/Kg. Harga tertinggi yang pernah dialami pula petani dari Sambas.

Dari data Dinas Perkebunan Kalimantan Barat, harga lada putih berada di angka Rp93.000/Kg tingkat petani dan Rp110.000/Kg di tingkat pedagang pada 2017 lalu. Harga lada putih yang sempat tinggi pada 3-4 tahun lalu tersebut, membuat tidak sedikit petani komoditas lain beralih menjadi petani lada putih atau hitam.

Dinas Perkebunan Kalbar mencatatkan pada 2018, produksi lada digarap sebanyak 24.515 kepala keluarga (KK) dengan jumlah total areal garapan seluas 10.550 hektare (Ha). Mereka menghasilkan produksi sebanyak 5.446 ton lada.

Sebaran itu bisa dilihat pada grafik di bawah ini:

Data dari Kementerian Pertanian menyebutkan Kalimantan Barat masih menjadi salah satu provinsi terbesar penghasil lada di Indonesia. Penghasil lada paling banyak dari provinsi Kepulauan Bangka Belitung, disusul Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan baru Kalimantan Barat.

Di sisi lain, ketika komoditas tersebut menjadi primadona, penyebab harga kian merosot karena hasil panen yang surplus dan pada saat bersamaan Vietnam dan Kamboja juga sedang panen lada.

“Kualitas lada mereka bagus dan terjamin dibandingkan dengan produksi dari lada kita [Indonesia]. Saya kemarin menjual ke Jakarta untuk pabrik makanan dan restoran, tapi dengan biaya produksi Indonesia yang kalah dengan negara lain dan harga segini, kami tidak kuat,” ujarnya.

Petani seperti Kori telah berkontribusi tidak hanya untuk kebutuhan dalam negeri tetapi untuk pasokan pasar luar negeri. Kori selain menjual kemasan dalam bentuk biji juga menjual secara bubuk di sejumlah wilayah seperti Jakarta dan beberapa provinsi di pulau Jawa.

Baca:  Kala Permintaan Lada Stabil Saat Covid-19

Dia menjadi salah satu penyumbang produksi lada keseluruhan nasional. Sejak 2015 hingga 2019, produksi lada mengalami kenaikan.

Kori mengharapkan ke depan ada perbaikan dalam biaya produksi supaya harga jual lada dari tingkat petani bertahan di kisaran harga yang tinggi.

Idealnya, kata dia, petani lada putih seperti dia hanya mengeluarkan biaya sekali produksi saja yang rerata minimal mencapai Rp80.000/bulan, mencakup pembelian untuk kebutuhan pupuk dan alat pertanian. Lebih dari itu memberatkan beban ongkos mereka produksi mereka.

Tinggalkan Balasan